(Tahun ke-2 Hijriah)

Oleh: Azis Subekti *
Puasa tidak turun ketika umat Islam sepenuhnya lemah. Ia juga tidak turun saat kekuasaan telah mapan dan mapan itu mulai membatu. Puasa diturunkan di titik paling genting sejarah: ketika sebuah komunitas baru saja belajar berdiri, dan untuk pertama kalinya merasakan bahwa mereka mungkin mampu mengubah dunia.
Tahun kedua Hijriah. Madinah belum menjadi negara, baru sebuah kemungkinan. Para pendatang yang tercerabut dari tanah asalnya bertemu penduduk lokal yang belajar berbagi. Solidaritas tumbuh, struktur mulai terbentuk, dan bersama itu lahir bahaya yang paling tua dalam perjalanan manusia: godaan untuk merasa benar sebelum matang.
Di momen itulah puasa Ramadhan diwajibkan.
Dalam kerangka yang mengingatkan pada pembacaan Ali Shariati, puasa bukanlah ibadah pelarian, melainkan disiplin revolusioner. Ia bukan candu spiritual, tetapi latihan keras agar manusia tidak mabuk oleh ide, identitas, dan kekuasaan. Puasa adalah kritik wahyu terhadap potensi tirani yang bahkan bisa lahir dari kebenaran.
Puasa mengajarkan lapar-bukan untuk memuliakan penderitaan, tetapi untuk membangunkan kesadaran. Lapar yang disengaja adalah bahasa tubuh yang berkata: engkau tidak berhak atas segalanya hanya karena engkau merasa benar. Tubuh dipaksa merasakan batas agar jiwa tidak berubah menjadi mesin pembenaran.
Mengapa puasa diwajibkan setelah hijrah? Karena hijrah adalah kemenangan awal-dan setiap kemenangan, sekecil apa pun, membawa benih kesewenang-wenangan. Zaman penuh dengan revolusi yang runtuh bukan karena kalah, tetapi karena tidak sanggup mengendalikan diri setelah menang. Puasa datang sebagai pagar sebelum jurang.
Dalam ritme Ramadhan, semua hierarki diguncang. Tidak ada kelas yang kebal dari lapar. Tidak ada pemimpin yang boleh merasa istimewa di hadapan matahari. Dengan cara itu, wahyu seakan berkata: jika engkau ingin membangun masyarakat adil, pastikan tubuhmu sendiri telah belajar taat pada keadilan.
Inilah mengapa Ramadhan tahun kedua Hijriah bukan tambahan ritual, melainkan fondasi moral sebuah umat yang sedang tumbuh. Ia mendidik sebelum mengizinkan. Ia menahan sebelum melepas. Ia mencurigai kekuatan, bahkan ketika kekuatan itu mengatasnamakan Tuhan.
Dan di sinilah puncaknya-bukan sebagai penutup yang menenangkan, tetapi sebagai peringatan perjalanan manusia:
Umat yang beriman namun tidak terlatih menahan diri
akan berubah lebih cepat menjadi penindas
daripada umat yang sejak awal memusuhi kebenaran.
Puasa tidak menjanjikan kemenangan.
Puasa hanya melakukan satu hal yang jauh lebih berbahaya bagi kesewenang-wenangan:
ia menunda kemenangan sampai manusia layak menerimanya.
Karena zaman tidak hancur oleh kekurangan iman,
melainkan oleh iman yang tidak pernah diajari batas.
*) Ketua DKM Al Ikhlas-Dalang, Munjul, Cipayung, Jakarta Timur, Anggota DPR RI
Tinggalkan komentar