Hidup Bermanfaat

Pertempuran Lepanto, Tonggak Cervantes “Lahir“ Sebagai Don Quixote yang Gila

Pertempuran Lepanto, Tonggak Cervantes “Lahir” sebagai Don Quixote yang Gila

Sebelum dunia mengenal Don Quixote sebagai ksatria yang menabrak kincir angin dengan keyakinan suci, ada seorang manusia nyata bernama Miguel de Cervantes yang lebih dulu menabrak kerasnya kenyataan hidup. Titik balik itu bernama Battle of Lepanto—sebuah pertempuran laut besar yang bukan hanya melukai tubuhnya, tetapi membentuk jiwanya.

Lepanto adalah medan perang antara kekuasaan besar, antara armada Kristen dan Ottoman, antara ambisi sejarah dan darah manusia. Cervantes ikut bertempur bukan sebagai pahlawan legendaris, melainkan sebagai prajurit biasa. Di sana, sebuah peluru menghancurkan fungsi tangan kirinya. Ia cacat seumur hidup. Anehnya, Cervantes tidak pernah menyebut luka itu sebagai tragedi. Ia menyebutnya kehormatan. Pada titik inilah sesuatu yang aneh, nyaris “gila”, mulai tumbuh dalam dirinya: keberanian untuk memaknai penderitaan sebagai martabat.

Pertempuran itu tidak melahirkan Cervantes sebagai penulis besar secara langsung. Tetapi Lepanto melahirkan sesuatu yang lebih mendasar: cara memandang dunia. Setelah kehilangan kekuatan fisik, Cervantes justru memperoleh penglihatan batin. Ia melihat bahwa heroisme seringkali tidak berakhir dengan kemenangan, bahwa pengorbanan jarang dihargai setimpal, dan bahwa dunia tidak selalu adil kepada mereka yang tulus. Dari kesadaran inilah benih Don Quixote mulai berakar.

Don Quixote adalah “kegilaan” yang lahir dari luka Lepanto. Ia adalah figur yang tetap percaya pada kehormatan di dunia yang menertawakannya. Ia maju ke medan yang mustahil bukan karena ia bodoh, tetapi karena ia tahu dunia tanpa keberanian moral jauh lebih menyedihkan. Seperti Cervantes yang bertempur meski sadar tubuhnya rapuh, Don Quixote melangkah meski sadar ia akan kalah.

Lepanto juga mengajarkan Cervantes ironi sejarah: bahwa mereka yang berkorban paling besar sering paling cepat dilupakan. Setelah perang, Cervantes tidak hidup sebagai pahlawan. Ia jatuh miskin, ditawan, dipenjara, disisihkan. Tetapi justru dari rangkaian kekalahan itulah Don Quixote menemukan nadanya—nada pahit-manis antara tawa dan luka, antara idealisme dan realitas.

Maka Don Quixote bukan tokoh gila yang lahir dari khayalan kosong. Ia lahir dari pengalaman perang, dari tubuh yang cacat, dari jiwa yang menolak menyerah pada sinisme. Kegilaannya adalah bentuk lain dari kewarasan yang lebih tinggi: keberanian untuk tetap memihak nilai ketika dunia memilih pragmatisme.

Jika Lepanto melumpuhkan tangan Cervantes, ia sekaligus membebaskan imajinasinya. Dari medan perang itulah ia “lahir” kembali—bukan sebagai prajurit yang menang, melainkan sebagai pengisah manusia yang berani menertawakan kekuasaan, menelanjangi kepalsuan, dan membela idealisme yang tampak mustahil.

Dan mungkin di situlah pelajaran paling tajam dari Lepanto: bahwa tidak semua kelahiran terjadi di ruang aman. Ada manusia yang justru lahir dalam luka. Cervantes adalah salah satunya. Dan Don Quixote—yang kita tertawakan hingga hari ini—adalah anak kandung dari luka itu.

Tagged as: , , , , ,

Tinggalkan komentar