Salju turun pelan di Gang Maly Prospekt, lorong sempit di Saint Petersburg—kota yang namanya berganti, seolah ingatan bisa diputus hanya dengan ejaan baru. Orang-orang kini menyebutnya Petrograd, tetapi dingin yang menempel di tulang tak pernah berganti. Cynthia Romanov merapatkan mantel pinjaman, menekan diri agar tampak biasa—biasa adalah satu-satunya penyamaran yang tersisa.
“Langkahmu terlalu tenang,” kata lelaki di sampingnya.
“Tenang?” Cynthia menoleh setengah.
“Ya. Orang yang pernah hidup tanpa takut berjalan seperti itu. Di kota ini, itu berbahaya.”
Namanya Andrea Dimitri—sebaya dengannya, wajah muda yang terlalu cepat belajar membaca ancaman. Geraknya hemat, matanya jernih. Ia bukan pahlawan; ia penyintas yang tahu kapan harus menghilang.
“Aku tak tahu cara lain,” kata Cynthia.
“Tak apa,” jawab Andrea. “Ikuti iramaku. Kita buat kau tak terlihat.”
Derap sepatu terdengar dari ujung gang. Teriakan tentara memantul, menyebut nama-nama lama seperti daftar dosa.
“Mereka mencari siapa?” bisik Cynthia.
“Siapa pun yang dulu merasa aman,” jawab Andrea. “Di sini, masa lalu adalah bukti.”
Cynthia menarik napas. Nama ayahnya berdenyut di dada—kata yang ingin keluar, tapi berbahaya.
Andrea mengangkat tangan, menenangkan. “Tidak sekarang. Malam ini kita hanya dua orang yang ingin bertahan.”
Mereka berbelok ke Rumah Singgah No. 12. Ketukan Andrea—dua cepat, satu lambat—dibalas tatapan perempuan tua yang mengerti usia dan ketakutan.
Di dalam, sup encer mengepul. Cynthia duduk, jarinya gemetar.
“Kau kedinginan,” kata Andrea.
“Bukan dingin,” jawab Cynthia. “Aku merasa hidupku berlari terlalu cepat.”
Andrea tersenyum tipis. “Saint Petersburg memang tak pernah menunggu.”
Ketukan keras mengguncang pintu depan. Perintah dibentakkan. Perempuan tua memberi isyarat cepat.
“Belakang. Sekarang.”
Mereka berlari ke udara beku. Sungai Neva membentang—beku, retak, memantulkan bulan. Bayangan Jembatan Liteyny menghitam.
“Pegang lenganku,” kata Andrea.
“Kalau aku jatuh?”
“Aku tak akan melepaskan.”
Tembakan memecah malam. Cynthia terpeleset. Andrea menariknya kembali ke keseimbangan. Mereka menyelip di bawah lengkung batu jembatan, menahan napas. Sepatu tentara lewat—berhenti—lalu menjauh.
“Kau gemetar,” bisik Andrea.
“Karena aku takut,” jawab Cynthia, suaranya pecah. “Bukan pada mereka. Pada diriku sendiri. Aku takut suatu hari aku membenci nama yang lahir bersamaku.”
Andrea menatapnya lama. “Nama bukan dosa. Pilihanlah yang membuatnya berat.”
“Lalu bagaimana jika dunia tetap menghukumku?”
“Kalau dunia menghukummu,” kata Andrea pelan, “biarkan aku menjadi saksi bahwa kau memilih benar malam ini.”
Cynthia menelan air mata. “Dan jika besok aku tak sanggup?”
“Pegang satu hal,” jawab Andrea. “Bahwa kau tidak sendirian. Bahkan saat kita terpisah.”
Cynthia mengangguk. “Aku… masih sanggup berdiri.”
Andrea menghela napas lega. “Itu cukup. Untuk malam yang kejam seperti ini.”
Fajar tipis mengiris langit. Mereka tahu kebersamaan ini harus diakhiri agar keduanya hidup.
“Kita berpisah di sini,” kata Andrea, seperti menutup pintu yang tak ingin ia tutup.
“Ke mana kau?”
“Ke timur—menuju Kazan.”
“Utara,” jawab Cynthia. “Ke Arkhangelsk.”
Cynthia menatap Neva yang membeku. “Aku takut ini yang terakhir.”
Andrea diam, lalu berkata, “Kalau begitu, kita beri masa depan sebuah alamat.”
“Di mana?”
“Pelabuhan Murmansk. Musim semi pertama. Di bawah menara jam tua.”
“Jika aku datang lebih dulu?”
“Tunggu satu bunyi lonceng,” kata Andrea. “Aku akan datang sebelum itu—jika aku masih hidup.”
“Dan jika kau tidak datang?”
Andrea menatapnya lembut. “Maka kau tetap berjalan. Jangan berhenti karena aku. Hidupmu bukan catatan kaki dari hidup siapa pun.”
Mereka berpisah tanpa pelukan. Cynthia melangkah ke utara, Andrea ke timur. Kota yang mengejar nama dengan salju menelan jejak mereka—dan menyimpan sebuah janji kecil di balik dinginnya.
***

Bertahun-tahun kemudian, kota yang sama menyambut musim panas. Air Neva berkilau tenang; kanal-kanal memantulkan langit yang enggan gelap. Malam memanjang, hampir tak jadi malam—White Nights—seakan kota ini menolak menutup mata terlalu cepat.
Gang-gang yang dulu menjadi jalan lari kini menjadi jalan pulang. Jembatan-jembatan terbuka pelan, bukan untuk mengejar, melainkan memberi jalan. Bayangan tak lagi bersembunyi; ia hanya lewat, ringan, seperti ingatan yang memilih damai.
Cynthia berdiri di tepi sungai, menyadari satu hal sederhana: kota yang sama dapat menyimpan dua musim yang bertolak—dingin yang memaksa manusia bertahan, dan hangat yang mengajari mereka mengingat tanpa takut. Ia tidak membawa nama lama sebagai beban; ia membawanya sebagai cerita.
Di tempat lain, Andrea menatap matahari yang hampir tak tenggelam. Ia tahu, janji tidak selalu menuntut pertemuan yang persis. Kadang, janji cukup ditepati dengan tetap hidup jujur, dengan tidak mengkhianati malam ketika seseorang memilih tinggal agar yang lain bisa melangkah.
Dan kota itu—yang pernah mengejar nama dengan salju—mengerti akhirnya: sejarah boleh berteriak, tetapi cahaya selalu menemukan jalannya. Di musim panasnya, yang tersisa bukan dendam, melainkan ruang—ruang bagi manusia untuk kembali menjadi manusia, tanpa salju dan sirene, hanya dengan ingatan yang telah belajar memaafkan.
Saint Petersburg, Juni 2002
Tinggalkan komentar