(dari Senja yang Membeku di Juneau)
Kekasih,
Surat ini kutulis menjelang senja yang beku, dari sebuah hotel mungil di pinggir pelabuhan Juneau, Alaska.
Jendela kamarku menghadap laut yang nyaris tak beriak. Kapal-kapal berlabuh seperti menahan napas, dan cahaya matahari turun perlahan, seakan enggan berpisah dengan hari. Udara dingin merambat masuk melalui celah-celah kaca, membawa bau asin dan kesunyian yang jujur. Di tempat sejauh ini, segala yang tak penting luruh dengan sendirinya. Yang tersisa hanya hal-hal yang benar-benar ingin dijaga.

Aku menulis dengan nada yang mungkin terlalu pelan untuk dunia yang gemar berteriak. Tetapi engkau tahu, sejak awal aku memang tidak pernah pandai mencintai dengan gaduh. Aku berjalan seperti Don Quixote—setia pada keyakinan yang sering ditertawakan, menjaga arah yang kerap dianggap keliru. Bukan karena aku menyukai kesendirian, melainkan karena aku percaya: ada cinta yang hanya bisa bertahan jika dijaga dengan kesetiaan yang sunyi.
Cintaku kepadamu tidak selalu menjelma kata-kata manis yang mudah diulang. Ia lebih sering hadir sebagai ketekunan—menjaga niat, menahan diri, dan tidak tergoda membelokkan arah hanya demi disukai. Banyak yang menyangka keteguhan itu keras, bahkan dingin. Mungkin mereka benar, jika melihatnya dari luar. Tetapi di dalamnya ada rasa takut kehilangan, ada harap yang tidak ingin rusak oleh tergesa. Seperti senja di Alaska ini—indah justru karena ia pelan dan menahan.
Perjalananku sering ditemani cinta yang ragu. Kesungguhan kerap disambut senyum yang belum selesai, lalu diletakkan di pinggir seolah terlalu berat untuk dipeluk sepenuh hati. Aku terbiasa memulai langkah dengan tatapan curiga—seakan ketulusan adalah beban, dan kesungguhan adalah ancaman. Seperti Don Quixote yang disalahpahami ketika melawan kincir angin, aku pun sering dianggap memperjuangkan sesuatu yang tidak perlu. Padahal, justru di sanalah aku berdiri.
Di senja yang beku ini, imajiku tentangmu hadir dengan jernih. Dalam benakku, engkau adalah Yu Shu Lien—perempuan yang teguh menjaga amanah, yang memanggul tanggung jawab tanpa mengeluh. Engkau berjuang sepenuh hati menjaga Green Destiny, bukan karena pedang itu milikmu, melainkan karena engkau percaya: ada titipan yang harus dijaga meski risikonya kehilangan. Dan ketika pedang itu akhirnya hilang, engkau tidak kehilangan dirimu. Engkau tetap berdiri, utuh dalam martabat, tenang dalam kedewasaan. Itulah yang paling kuhargai darimu: keteguhan yang tidak meminta tepuk tangan, kedewasaan yang tidak menuntut pengakuan.
Aku belajar mencintaimu dari caramu memikul tanggung jawab—diam-diam, tanpa drama. Dari caramu setia pada amanah meski dunia tidak selalu adil. Keteguhan semacam itu jarang, dan justru karena itulah ia berharga. Jika aku menahan diri seperti Li Mu Bai, itu bukan karena aku ingin cinta ini terpenjara. Itu karena aku ingin ia tetap bersih—tidak rusak oleh ego, tidak patah oleh tergesa.
Namun, Kekasih, di antara desir angin pelabuhan dan cahaya yang kian memudar ini, aku ingin jujur sepenuhnya: aku berharap cinta kita tidak berakhir seperti mereka. Aku tidak ingin kesetiaan berubah menjadi penyesalan yang terlambat diucapkan. Aku ingin kita berani menjaga nilai dan berani memilih satu sama lain, sebelum waktu memaksa kita belajar kehilangan.
Aku memang belajar menahan daya—mengatur napas, menunda cahaya. Bukan untuk menjauh darimu, melainkan agar api tidak padam sebelum waktunya. Aku paham, tidak semua kekuatan harus ditampakkan sekaligus. Tetapi ada satu hal yang ingin kusimpan paling dekat ke jantungku: keberanian untuk berjalan bersamamu, bukan hanya mengagumimu dari kejauhan.
Aku berdamai dengan pinggiran, dengan sepi, dengan perjalanan yang tidak selalu dipahami. Namun bersamamu, aku ingin keteguhan ini menjadi rumah, bukan tembok. Aku ingin kesabaran menjadi jembatan, bukan jarak.
Senja di Juneau akhirnya padam. Lampu-lampu pelabuhan menyala satu per satu, dan dingin makin nyata. Waktu berjalan—tidak selalu lembut, tetapi selalu jujur. Ia akan menguji apakah cinta kita hanya pandai menunggu, atau cukup berani melangkah. Aku tidak tergesa. Tetapi aku juga tidak ingin terlambat.
Jika suatu hari engkau membaca surat ini dan merasakan dingin yang pelan, ketahuilah: di sanalah cintaku bekerja—tenang, setia, dan sungguh-sungguh ingin tinggal.
Dari ujung dunia yang sunyi ini, aku berharap:
cinta kita memilih hidup,
menjaga amanah,
dan tetap saling memilih—
bahkan ketika Green Destiny telah hilang dari genggaman.
Juneau, 18 Juni 2001
Arya
Dari Kumpulan Cerpen Azis Subekti
Tinggalkan komentar