Hidup Bermanfaat

Dostoyevsky dan Keguncangan Kekuasaan di Masanya

Kekuasaan pada abad ke-19 Rusia berdiri di atas dua pilar yang tampak kokoh: otokrasi negara dan ketertiban sosial yang dijaga dengan ketakutan. Namun, di balik wajahnya yang kaku, ia rapuh terhadap satu hal—manusia yang berpikir terlalu dalam. Di titik inilah Fyodor Dostoyevsky hadir bukan sebagai pemberontak bersenjata, melainkan sebagai pengganggu kesadaran. Ia tidak menyerang istana, tetapi mengguncang fondasi batin yang menopang kekuasaan itu sendiri.

ilustrasi Dostoyevsky

Dostoyevsky hidup dalam zaman ketika negara berusaha menertibkan manusia melalui hukum, hukuman, dan ide kemajuan. Ia mengalami langsung bagaimana kekuasaan bekerja: penangkapan, hukuman mati yang nyaris dijalankan, lalu pembuangan ke Siberia. Pengalaman itu tidak melahirkannya sebagai penulis dendam, tetapi sebagai pengamat tajam tentang apa yang terjadi ketika negara merasa berhak menentukan nilai manusia. Ia memahami bahwa ketakutan adalah bahasa utama kekuasaan—dan bahwa ketakutan paling efektif adalah yang membuat manusia mengawasi dirinya sendiri.

Melalui tokoh-tokohnya, Dostoyevsky memperlihatkan bahwa kekuasaan paling berbahaya bukan yang memerintah dari luar, melainkan yang menyusup ke pikiran. Ide tentang manusia unggul, tentang tujuan besar yang membenarkan pengorbanan individu, tentang rasionalitas yang menyingkirkan belas kasih—semua itu adalah wajah lain dari tirani. Dalam dunia Dostoyevsky, negara tidak perlu selalu hadir; cukup dengan ide, manusia bisa menindas sesamanya dengan keyakinan moral yang mengerikan.

Keguncangan yang ia timbulkan bukan keguncangan jalanan, melainkan keguncangan nurani. Ia memaksa pembacanya bertanya: apakah ketaatan pada sistem otomatis menjadikan seseorang bermoral? Pertanyaan ini berbahaya bagi kekuasaan di masanya, karena ia membuka kemungkinan bahwa hukum negara bisa sah, tetapi tetap tidak adil. Bahwa perintah bisa legal, tetapi tetap tidak manusiawi.

Yang paling mengganggu bagi penguasa zamannya adalah keberanian Dostoyevsky menempatkan iman dan kebebasan batin di luar jangkauan negara. Ketika negara ingin menjadi sumber makna, ia bertanya tentang Tuhan. Ketika negara menjanjikan keteraturan, ia menunjukkan kekacauan jiwa manusia. Bukan untuk merayakan kekacauan itu, melainkan untuk menegaskan bahwa manusia tidak bisa direduksi menjadi angka, statistik, atau alat sejarah.

Dostoyevsky menulis di tengah sensor, represi, dan kecurigaan. Namun tulisannya tetap hidup, justru karena ia tidak menawarkan program politik. Ia menawarkan tanggung jawab moral. Ia menolak gagasan bahwa penderitaan bisa dihapus dengan sistem semata. Bagi kekuasaan di masanya, ini ancaman serius: manusia yang merasa bertanggung jawab secara pribadi jauh lebih sulit dikendalikan daripada manusia yang sekadar patuh.

Keguncangan yang ditimbulkan Dostoyevsky di masanya mungkin tidak menjatuhkan rezim, tetapi ia menanam benih yang jauh lebih tahan lama: kesadaran bahwa kekuasaan, betapapun sah dan kuat, selalu harus berhadapan dengan batin manusia yang bebas. Dan selama masih ada manusia yang berani bertanya, ragu, dan menolak menyerahkan nuraninya sepenuhnya kepada negara, keguncangan itu tidak pernah benar-benar reda.

Dostoyevsky, dalam sunyi dan kesendiriannya, telah menunjukkan bahwa kekuasaan paling takut bukan pada teriakan massa, melainkan pada satu suara yang tak bisa dibungkam: suara hati manusia.

Munjul, 12 Januari 2026

Perenung Sunyi, Azis Subekti

Tagged as: , , , ,

Tinggalkan komentar