Hidup Bermanfaat

Keramaian Tiktok RI di Akhir Pekan, Kamu di Mana?

Oleh: Azis Subekti

ilustrasi keramaian di tiktok

Akhir pekan datang seperti jeda napas. Namun alih-alih sunyi, kita justru masuk ke keramaian lain—keramaian yang tak berisik di telinga, tetapi ramai di batin. Jempol bergerak pelan, layar menyala, dan TikTok membuka pintu bagi ribuan cerita yang berkelebat cepat.

Di sana, kita melihat hidup orang lain sekilas: tawa singkat di dapur sempit, lelah yang disamarkan musik, harap yang diselipkan kalimat pendek. Tak semuanya indah. Tak semuanya utuh. Tapi justru di situlah kejujurannya. Akhir pekan membuat banyak orang berani menurunkan topeng—menjadi manusia biasa yang ingin didengar, walau hanya 30 detik.

Candunya nyata. Algoritma pandai merayu, scroll seolah tak berujung. Namun di sela candu itu, terselip peluang kebaikan. Ada konten yang mengingatkan untuk pulang tepat waktu. Ada cerita kecil yang membuat kita menahan air mata. Ada tawa receh yang—anehnya—membuat hari terasa lebih ringan. Jika kita mau berhenti sejenak, keramaian itu bisa menjadi cermin, bukan sekadar pelarian.

Refleksi ini sederhana: apa yang kita bawa saat masuk, dan apa yang kita pulangkan saat keluar?
Masuk dengan lelah, pulang dengan lega—itu berkah.
Masuk dengan iri, pulang dengan syukur—itu kemenangan kecil.
Masuk hanya ingin menghabiskan waktu, pulang dengan satu niat baik—itu anugerah.

Akhir pekan di TikTok RI adalah ruang belajar tentang batas. Tentang kapan cukup. Tentang memilih konten yang menumbuhkan, bukan yang menggerus. Tentang berani berhenti ketika hati mulai sesak, dan berani berbagi ketika hati mulai lapang. Kita tidak harus selalu bersuara; kadang kebaikan paling sunyi adalah menutup aplikasi tepat waktu dan kembali pada hidup yang menunggu.

Maka, di tengah keramaian itu, kamu di mana?
Jika kamu di sana untuk tertawa—tertawalah dengan santun.
Jika kamu di sana untuk belajar—belajarlah dengan rendah hati.
Jika kamu di sana untuk beristirahat—istirahatlah dengan sadar.

Sebab platform hanyalah jalan. Kitalah yang menentukan arah. Di antara candunya media sosial, selalu ada pilihan untuk pulang sebagai manusia yang sedikit lebih baik dari sebelum kita membuka layar.

Tagged as: , , , ,

Tinggalkan komentar