Hidup Bermanfaat

Hemingway dan Pesan Pencapaian Keabadian: Salju di Puncak Kilimanjaro

Oleh: Azis Subekti

Dalam dunia Ernest Hemingway, keabadian bukanlah soal hidup selamanya, melainkan tentang meninggalkan jejak yang jujur sebelum ajal menutup pintu. Ia tidak mempercayai kemegahan kata-kata, tetapi percaya pada ketepatan. Ia tidak memuja usia panjang, tetapi keberanian untuk hidup tanpa berkhianat pada diri sendiri. Semua itu mengeras dalam kisah pendeknya, Salju di Puncak Kilimanjaro—sebuah renungan sunyi tentang hidup yang terlambat dan keabadian yang gagal diraih.

Harry, tokoh utama, sekarat bukan karena luka semata, tetapi karena pengkhianatan panjang terhadap bakatnya sendiri. Ia pernah melihat dunia dari sisi paling mentah: perang, kemiskinan, kehancuran, cinta yang kasar dan jujur. Semua bahan keabadian itu ada di tangannya. Namun ia menunda. Ia memilih nyaman, memilih aman, memilih hidup yang tidak menguras keberanian. Maka ketika maut datang, yang tersisa bukan ketakutan, melainkan penyesalan.

Di sinilah Hemingway berbicara pelan tapi kejam: keabadian tidak dicapai di akhir hidup, melainkan ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang konsisten sepanjang hidup. Salju di puncak Kilimanjaro menjadi simbol puncak itu—putih, bersih, tak tersentuh, dan jauh. Ia berdiri sebagai kemungkinan ideal yang hanya bisa diraih oleh mereka yang setia pada panggilan terdalamnya. Harry memandangnya, tetapi tak pernah benar-benar mencapainya.

Hemingway seolah mengingatkan bahwa kematian bukan tragedi terbesar. Tragedi sejati adalah hidup panjang tanpa pernah menjadi utuh. Harry mati bukan sebagai penulis besar, tetapi sebagai saksi bisu dari karya-karya yang tak pernah lahir. Keabadian yang seharusnya ia raih lewat tulisan justru membeku sebagai penyesalan.

Dalam adegan terakhir yang ambigu—pesawat yang seolah membawa Harry ke puncak Kilimanjaro—Hemingway memberi ironi paling halus. Keabadian hadir, tetapi hanya sebagai mimpi terakhir. Ia indah, tetapi terlambat. Pesan itu tidak berteriak, namun menghantam: keabadian tidak ramah pada mereka yang gemar menunggu.

Lewat cerita ini, Hemingway seperti bercermin pada dirinya sendiri—pada ketakutan, disiplin, dan obsesi akan kejujuran artistik. Ia tahu, seorang penulis tidak mati ketika jantungnya berhenti, tetapi ketika ia berhenti menulis kebenaran yang ia ketahui. Keabadian bukan hadiah, melainkan konsekuensi dari keberanian.

The Snows of Kilimanjaro—Salju di Puncak Kilimanjaro—akhirnya bukan hanya kisah tentang kematian, melainkan peringatan keras tentang hidup. Tentang waktu yang tidak pernah benar-benar menunggu. Tentang puncak yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang berjalan, bukan menunda. Dan tentang satu pertanyaan yang terus bergema, lama setelah cerita selesai dibaca:
jika hari ini adalah hari terakhir, apakah kita sudah cukup jujur pada panggilan hidup kita sendiri?

Munjul, 11 Januari 2026

Tagged as: , , ,

Tinggalkan komentar