Hidup Bermanfaat

Ketika Dunia Mengeras: Mengapa Indonesia dan ASEAN Tak Boleh Diam

Oleh: Azis Subekti 

Dunia terasa makin bising, tetapi justru kehilangan arah. Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah peristiwa jauh di Amerika Latin—dinamika keras antara Amerika Serikat dan Venezuela—menjadi pengingat bahwa politik global hari ini sedang menguji batas: seberapa jauh kekuatan boleh melangkah, dan sejauh mana aturan masih dihormati. Bagi publik Indonesia, ini mungkin terdengar jauh. Namun sesungguhnya, gaungnya sampai ke rumah kita—ke harga energi, ke stabilitas kawasan, ke rasa aman yang selama ini kita anggap wajar.

Yang dipertaruhkan bukan sekadar satu negara dan satu pemimpin. Yang diuji adalah kebiasaan dunia. Ketika urusan lintas negara diselesaikan dengan paksaan, ketika dalih hukum domestik melampaui pagar kedaulatan, maka pesan yang beredar sederhana tapi berbahaya: yang kuat bisa menentukan. Dalam dunia seperti itu, aturan bukan lagi penyangga bersama, melainkan pilihan—dipakai jika menguntungkan, diabaikan jika menghalangi.

Indonesia membaca situasi ini dengan naluri yang lahir dari pengalaman. Kita tahu rasanya berada di sisi yang ditekan. Maka bahasa kehati-hatian—seruan dialog, penegasan non-intervensi, dan penghormatan pada hukum internasional—bukanlah basa-basi diplomatik. Itu adalah cara menjaga agar dunia tidak tergelincir lebih jauh. Sikap ini juga sejalan dengan watak kawasan ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) hidup dari kepercayaan bahwa perbedaan dikelola dengan bicara, bukan dengan memaksa.

Namun, kehati-hatian punya harga. Ketika preseden penggunaan kekuatan dibiarkan, negara-negara kecil dan menengah mulai gelisah. Di Asia Tenggara, kegelisahan itu terasa nyata. Jika aturan melemah, apa jaminan sengketa tak berubah menjadi tekanan terbuka? Jika paksaan dinormalisasi, apa yang menahan hadirnya militerisasi atas nama isu non-militer? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan teori—ia menyentuh Laut Cina Selatan, arus perdagangan, dan rasa aman warga.

Dampaknya merambat ke dapur kita. Dunia yang tak pasti membuat energi dan pangan bergejolak, investasi menahan napas, dan biaya hidup tertekan. ASEAN—yang tumbuh dari keterbukaan dan kepastian—membutuhkan dunia yang bisa diprediksi. Ketika prediktabilitas runtuh, yang paling merasakan adalah masyarakat biasa.

Di tengah situasi ini, pilihan Indonesia dan ASEAN menjadi jelas, meski tak mudah. Diam bukan netral. Netralitas sejati adalah berani menjaga aturan, tanpa berteriak, tanpa memihak, tetapi konsisten. ASEAN harus tetap rapat—karena hanya dengan kebersamaan ia punya bobot. Indonesia, dengan ukuran dan pengaruhnya, memikul peran untuk merawat sentralitas itu: hadir aktif di forum global, menyatukan suara kawasan, dan mengingatkan bahwa hukum internasional bukan hiasan pidato, melainkan pagar keselamatan.

Pada saat yang sama, ketahanan harus dibangun dari dalam. Menguatkan kerja sama ekonomi intra-ASEAN, mendiversifikasi energi, dan memperkuat kapasitas diplomasi serta hukum internasional bukan agenda elite—itu investasi agar guncangan global tidak langsung menghantam rakyat. Dunia yang mengeras menuntut kawasan yang cerdas: luwes membaca arus, kukuh memegang prinsip.

Peristiwa yang jauh itu akhirnya menjadi cermin. Ia memantulkan masa depan yang mungkin kita hadapi jika aturan dibiarkan rapuh. Indonesia dan ASEAN dihadapkan pada pilihan sederhana tapi menentukan: menyesuaikan diri dengan dunia yang semakin keras, atau dengan sabar dan bermartabat menjaga agar aturan tetap hidup. Stabilitas kawasan tidak lahir dari keberpihakan pada yang kuat, melainkan dari keberanian kolektif membela cara yang benar—agar yang jauh tidak pernah benar-benar menjadi ancaman yang dekat.

ilustrasi by AI

Tagged as: , , , , ,

Tinggalkan komentar