Hidup Bermanfaat

Ketika Akhlak Menjadi Jalan Sejarah

Oleh: Azis Subekti *

Dakwah Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah dimulai dari teriakan kemenangan. Ia lahir dari keheningan—seorang manusia yang memilih jujur di tengah kebiasaan dusta, memilih sabar di tengah kemarahan, dan memilih konsistensi nilai di tengah godaan jalan pintas. Sejarah besar itu justru tumbuh dari langkah-langkah kecil yang setia pada akhlak.

Di Makkah, dakwah adalah perjalanan sunyi. Setiap kata tauhid yang diucapkan Nabi seperti butir cahaya di padang pasir yang gelap. Ia ditertawakan, dicaci, dilukai. Batu dilemparkan, tubuh berdarah, pintu-pintu ditutup. Namun tak satu pun luka itu mengubah arah kompasnya. Tidak ada balasan dengan kebencian. Tidak ada ajaran yang disampaikan dengan amarah. Nabi menanam nilai di tanah yang keras—dengan kesabaran yang nyaris tak masuk akal bagi ukuran manusia biasa.

Tahun-tahun di Makkah mengajarkan satu hal penting: perubahan sejati tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari keteguhan. Dakwah Nabi tidak tumbuh karena jumlah pengikut semata, tetapi karena kualitas akhlak yang konsisten. Ketika kekuasaan ditawarkan, ia menolak. Ketika kompromi diminta, ia bertahan. Bukan karena keras kepala, melainkan karena nilai tidak bisa ditawar.

Hijrah ke Madinah bukan pelarian, melainkan peralihan fase. Dari kesabaran menjadi peradaban. Dari ketabahan personal menjadi tata sosial. Nabi membangun masyarakat dengan fondasi yang sama: akhlak. Ia mempersaudarakan yang berbeda, menata hukum tanpa menindas, dan memimpin tanpa memisahkan diri dari umat. Di sinilah dakwah menemukan bentuknya yang utuh—iman yang menjelma sistem, nilai yang menjelma kehidupan bersama.

Lalu tibalah saat yang oleh sejarah dicatat sebagai kemenangan: Fathu Makkah. Kota yang dahulu mengusir, kini membuka pintu. Kota yang dahulu melempar batu, kini tunduk tanpa perlawanan berarti. Nabi memasuki Makkah bukan sebagai penakluk yang haus balas dendam, melainkan sebagai manusia yang memikul kemenangan dengan kepala tertunduk—rendah hati di puncak kuasa.

Di hadapan orang-orang yang pernah menyiksanya, Nabi tidak membuka lembar pembalasan. Ia justru membuka pintu maaf. “Pergilah, kalian bebas.” Kalimat itu bukan sekadar pengampunan; ia adalah deklarasi nilai. Bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan musuh, melainkan menaklukkan diri sendiri. Bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari kebencian, tetapi dari akhlak yang konsisten bahkan saat berkuasa.

Fathu Makkah mengajarkan bahwa kesabaran bukan sikap pasif, melainkan investasi jangka panjang. Nilai yang dijaga dalam keadaan lemah akan menemukan momentumnya ketika kuat. Nabi tidak berubah ketika keadaan berubah. Justru karena itulah keadaan akhirnya berubah.

Perjalanan dakwah Nabi ﷺ adalah pelajaran sunyi bagi siapa pun yang ingin mengubah dunia: jangan tergesa mengejar hasil, jangan goyah oleh luka, dan jangan mengkhianati nilai demi kemenangan sesaat. Sejarah memang mencatat peristiwa, tetapi peradaban dibangun oleh akhlak.

Dan di sanalah letak keagungan dakwah itu—bahwa yang menggerakkan zaman bukan retorika, bukan kekuasaan, melainkan kesabaran yang setia pada nilai, dan akhlak yang tak pernah lelah berjalan.

*)Ketua Masjid Al Ikhlas-Dalang, Munjul, Anggota DPR RI

Tagged as: , , , ,

Categorised in: Berita Terkini, Inspirasi

Tinggalkan komentar