Hidup Bermanfaat

Kenapa Ferguson Sulit Terkejar dan Mengapa Jalan Itu Kita Kenali

Ada kepemimpinan yang gemerlap karena hasil. Ada pula yang berjejak panjang karena kesetiaan pada proses. Di antara keduanya, sejarah selalu memilih yang kedua untuk bertahan lebih lama. Itulah sebabnya kisah Sir Alex Ferguson terasa akrab ketika kita menengok perjalanan tokoh lain di medan berbeda—seperti Prabowo Subianto.

ilustrasi, direkayasa dg AI

Ferguson sulit terkejar bukan karena ia selalu menang, melainkan karena ia sabar membangun. Ia menanam nilai lebih dulu, baru memetik hasil. Ia mengerti bahwa kemenangan yang tidak disiapkan dengan fondasi hanya akan melahirkan kelelahan, bukan keberlanjutan. Prinsip inilah yang membuatnya mampu menjaga Manchester United tetap bernyawa lintas generasi.

Dalam dunia politik Indonesia, pola serupa terlihat dalam perjalanan Prabowo membangun Partai Gerindra. Partai itu tidak lahir sebagai raksasa. Ia dirawat pelan-pelan, ditempa melalui kekalahan, kritik, bahkan cemooh. Namun seperti tim yang dilatih Ferguson, yang dipelihara pertama kali bukan elektabilitas, melainkan karakter dan militansi kader.

Ferguson berani menyingkirkan pemain besar demi masa depan tim. Prabowo pun berani mengambil jalan panjang ketika jalan pintas tersedia. Ia memilih mendidik, membina, dan menempa—termasuk melalui proses kaderisasi yang kerap berlangsung jauh dari sorotan, seperti di Hambalang. Di sana, politik tidak diajarkan sebagai siasat sesaat, melainkan sebagai pengabdian yang menuntut disiplin dan daya tahan.

Dalam hidup, seperti dalam sepak bola dan politik, kegagalan sering kali menjadi guru paling jujur. Ferguson belajar dari tahun-tahun awal tanpa trofi. Prabowo belajar dari kekalahan berulang. Keduanya tidak berhenti, karena mereka memahami satu pelajaran penting: yang runtuh karena kalah adalah ego, bukan tujuan. Dan hanya mereka yang sanggup menanggalkan ego yang layak memimpin perjalanan panjang.

Ada pula kesamaan lain yang jarang dibicarakan—cara membaca manusia. Ferguson tahu setiap pemain memiliki luka dan potensi yang berbeda. Prabowo memahami bahwa kader tidak bisa dibentuk dengan satu cetakan. Ada yang tumbuh lewat tempaan keras, ada yang berkembang lewat kepercayaan. Kepemimpinan, pada akhirnya, adalah seni menumbuhkan orang lain tanpa kehilangan arah besar.

Hari ini, buah dari kesabaran itu mulai terlihat. Ferguson meninggalkan klub dengan jejak yang terasa justru setelah ia pergi. Prabowo memetik hasil dari ketekunan membangun organisasi dan manusia—bukan hanya dalam bentuk posisi atau pencapaian politik, tetapi dalam ketahanan struktur dan loyalitas kader. Sejarah selalu jujur pada mereka yang bersedia menunggu.

Dari dua dunia yang berbeda ini, kita belajar satu hal yang sama:
keberhasilan yang bertahan lama tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari kesanggupan berjalan jauh tanpa kehilangan keyakinan.

Ferguson sulit terkejar karena ia berlomba dengan waktu.
Prabowo menapaki jalan yang sama—menjadikan waktu sebagai sekutu, bukan musuh.

Dan bagi kita semua, itu adalah pelajaran hidup yang paling sunyi sekaligus paling mahal:
bahwa makna besar jarang lahir dari kegaduhan, melainkan dari ketekunan yang tidak pernah berhenti bekerja.

Posko Darurat Tamiang, 30 Desember 2025-Azis Subekti

Tagged as: , , ,

Categorised in: Berita Terkini, Inspirasi

Tinggalkan komentar