Hidup Bermanfaat

Bulan: Januari 2026

Surat Untuk Kekasih

(dari Senja yang Membeku di Juneau) Kekasih,Surat ini kutulis menjelang senja yang beku, dari sebuah hotel mungil di pinggir pelabuhan Juneau, Alaska.Jendela kamarku menghadap laut yang nyaris tak beriak. Kapal-kapal berlabuh seperti menahan napas, dan cahaya matahari turun perlahan, seakan enggan berpisah dengan hari. Udara dingin merambat masuk melalui celah-celah kaca, membawa bau asin dan… Read More ›

Ketika Dunia Mengeras, Mengapa Indonesia dan ASEAN Tak Boleh Diam

Oleh: Azis Subekti Dunia terasa makin bising, tetapi justru kehilangan arah. Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah peristiwa jauh di Amerika Latin—dinamika keras antara Amerika Serikat dan Venezuela—menjadi pengingat bahwa politik global hari ini sedang menguji batas: seberapa jauh kekuatan boleh melangkah, dan sejauh mana aturan masih dihormati. Bagi publik Indonesia, ini mungkin terdengar jauh. Namun… Read More ›

Negara yang Tidak Percaya Kekuasaan

(Arsitek Konstitusi Amerika: Madison, Hamilton, Jay) Oleh: Azis Subekti Amerika Serikat tidak lahir dari keyakinan romantik bahwa kekuasaan akan selalu dijalankan oleh orang-orang bermoral. Ia justru dibangun di atas kecurigaan yang sadar: bahwa kekuasaan, sebaik apa pun niat awalnya, selalu membawa potensi menyimpang. Dari kesadaran itulah tiga tokoh bekerja dalam ketekunan sunyi—James Madison, Alexander Hamilton,… Read More ›

Dostoyevsky dan Keguncangan Kekuasaan di Masanya

Kekuasaan pada abad ke-19 Rusia berdiri di atas dua pilar yang tampak kokoh: otokrasi negara dan ketertiban sosial yang dijaga dengan ketakutan. Namun, di balik wajahnya yang kaku, ia rapuh terhadap satu hal—manusia yang berpikir terlalu dalam. Di titik inilah Fyodor Dostoyevsky hadir bukan sebagai pemberontak bersenjata, melainkan sebagai pengganggu kesadaran. Ia tidak menyerang istana,… Read More ›

Hemingway dan Pesan Pencapaian Keabadian: Salju di Puncak Kilimanjaro

Oleh: Azis Subekti Dalam dunia Ernest Hemingway, keabadian bukanlah soal hidup selamanya, melainkan tentang meninggalkan jejak yang jujur sebelum ajal menutup pintu. Ia tidak mempercayai kemegahan kata-kata, tetapi percaya pada ketepatan. Ia tidak memuja usia panjang, tetapi keberanian untuk hidup tanpa berkhianat pada diri sendiri. Semua itu mengeras dalam kisah pendeknya, Salju di Puncak Kilimanjaro—sebuah… Read More ›

Keramaian Tiktok RI di Akhir Pekan, Kamu di Mana?

Oleh: Azis Subekti Akhir pekan datang seperti jeda napas. Namun alih-alih sunyi, kita justru masuk ke keramaian lain—keramaian yang tak berisik di telinga, tetapi ramai di batin. Jempol bergerak pelan, layar menyala, dan TikTok membuka pintu bagi ribuan cerita yang berkelebat cepat. Di sana, kita melihat hidup orang lain sekilas: tawa singkat di dapur sempit,… Read More ›

Katsumoto Penjaga Tradisi dan Karakter Jepang, dalam The Last Samurai

Oleh: Azis Subekti Katsumoto hidup seolah ia tahu waktunya terbatas. Setiap langkahnya tenang, setiap ucapannya tertimbang, seakan ia telah berdamai dengan kemungkinan paling pahit: bahwa dunia yang ia jaga sedang menuju akhir. Ia bukan samurai yang keras oleh amarah, melainkan oleh keyakinan. Dalam dirinya, pedang bukan sekadar senjata, melainkan simbol cara hidup—cara memandang kehormatan, kesetiaan,… Read More ›

Kenapa Ferguson Sulit Terkejar dan Mengapa Jalan Itu Kita Kenali

Ada kepemimpinan yang gemerlap karena hasil. Ada pula yang berjejak panjang karena kesetiaan pada proses. Di antara keduanya, sejarah selalu memilih yang kedua untuk bertahan lebih lama. Itulah sebabnya kisah Sir Alex Ferguson terasa akrab ketika kita menengok perjalanan tokoh lain di medan berbeda—seperti Prabowo Subianto. Ferguson sulit terkejar bukan karena ia selalu menang, melainkan… Read More ›

Sepak Bola, Waktu dan Cara Kita Menjadi Dewasa

Oleh: Azis Subekti  Sepak bola, jika dilihat lebih dekat, bukan hanya tentang skor dan klasemen. Ia adalah ruang belajar yang paling jujur tentang hidup—tentang waktu yang tidak bisa dipercepat, tentang kesalahan yang harus dibayar, dan tentang kesabaran yang pelan-pelan membentuk watak. Musim ini, ketika mata publik tertuju pada persaingan gelar, lapangan hijau seakan berbisik pelan:… Read More ›

Tawa, Niat dan Zaman yang Mudah Tersinggung

Oleh: Azis Subekti * Ada ironi yang selalu bersembunyi di balik tawa. Ia terdengar ringan, tetapi sering membawa beban yang tidak kecil. Dari sanalah perbincangan tentang mens rea—niat di balik ucapan—dalam konteks Pandji Pragiwaksono bermula. Bukan semata soal apa yang diucapkan, melainkan bagaimana kata-kata itu dipahami di zaman yang serba cepat menilai. Pandji dikenal sebagai… Read More ›

Ketika Akhlak Menjadi Jalan Sejarah

Oleh: Azis Subekti * Dakwah Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah dimulai dari teriakan kemenangan. Ia lahir dari keheningan—seorang manusia yang memilih jujur di tengah kebiasaan dusta, memilih sabar di tengah kemarahan, dan memilih konsistensi nilai di tengah godaan jalan pintas. Sejarah besar itu justru tumbuh dari langkah-langkah kecil yang setia pada akhlak. Di Makkah, dakwah… Read More ›

Ketika Dunia Mengeras: Mengapa Indonesia dan ASEAN Tak Boleh Diam

Di tengah dunia yang kian keras dan mengabaikan aturan, konflik jauh seperti Venezuela sesungguhnya berdampak dekat bagi Indonesia dan kawasan. Tulisan ini menegaskan bahwa diam bukanlah netral: Indonesia dan ASEAN harus berdiri bersama menjaga hukum internasional, dialog, dan kepastian global. Karena stabilitas kawasan—dan dapur rakyat—hanya bisa dilindungi oleh keberanian kolektif membela cara yang benar, bukan dengan tunduk pada yang paling kuat.