Memoar: Azis Subekti
Pesan mulia kepemimpinan sejak jaman kenabian, diikuti para pemimpin hebat yang mendapatkan petunjuk Tuhan selalu sama: hal yang sederhana, mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan:
“Membela kebenaran, menegakkan keadilan, berpihak pada yang lemah dan terpinggirkan dan mewujudkan kesejahteraan bagi orang banyak”
Itu hal yang selalu saya ingat dan awal mula saya pahami sejak saya maju sebagai calon kepala daerah di kota dingin Wonosobo pada tahun 2010 dan saya sampaikan dalam pidato saya di sidang istimewa DPRD pada bulan juli di tahun yang sama.
Syahdan, di hari-hari berikutnya saya selalu mendengar dan ingin menyimak terus tentang inti kepemimpinan itu dari banyak tokoh inspiratif. Diantara yang paling menonjol menurut subjektifitas saya adalah Pak Prabowo-bukan karena beliau memiliki jabatan tinggi di pemerintahan pada waktu itu-bukan, lebih memang sejak saya SMP sangat gandrung dengan tokoh yang berlatar belakang militer. Pengetahuan tentang sosok Prabowo Subianto banyak datang dari cerita dekan saya di Fakultas Teknik UMJ yang juga anggota Dewan Riset Nasional (medio 1996-1997) almarhum Pak Zalbawie Soeyoeti, SF, APU (gelar tertinggi dalam riset) atau bisa disebut Profesor riset. Beliau, Pak Zalbawie sering menceritakan kepada saya tentang sosok Prabowo remaja yang pulang dari luar negeri lantas masuk AKABRI darat, berkarir di Kopasus, menjadi menantu Presiden menjadi Pangkostrad dan keluarga begawan ekonomi Prof. Soemitro Djoyohadikusumo. Cerita itu berulang-ulang beliau sampaikan dengan penekanan dan romantika yang berbeda-beda.
Sejak itu secara tidak terduga dalam proses aktivitas saya di kegiatan kemahasiswaan sebagai ketua Senat Mahasiswa Fakultas, saya bertemu dengan mantan Ketua Umum PP pemuda Muhammadiyah, mas Imam Adarulqutni-pada waktu itu beliau anggota DPR RI hasil pemilu pertama di era reformasi tahun 1999. Dalam sebuah perbincangan, Mas Imam menceritakan bagaimana dirinya dijemput, difasilitasi dibimbing, ditraktir, dinasehati Pak Prabowo ketika perjalanannya di jazirah arab sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah. Dari semua cerita mas Imam tentang Pak Prabowo satu hal yang selalu ingat: “Pak Prabowo menepuk-nepuk pundak saya dan berulang-ulang mengatakan: kamu pemimpin masa depan Mam”
Saya sering membayangkan peristiwa itu seperti saya alami langsung dari Pak Prabowo dan betapa bangganya mas Imam menceritakan momen itu. Mas Imam menambahkan-perlakuan itu juga dilakukan Pak Prabowo pada tokoh pemuda/mahasiswa yang melakukan perjalanan ke Timur Tengah di masa-masa itu.
Singkat cerita, takdir memang telah tertulis: pada pilpres 2014 pasangan Prabowo-Hatta disahkan KPU dan berkompetisi dengan Jokowi-JK. Interaksi dengan Pak Prabowo dari dekat intens dalam kapasitas saya untuk mendampingi Pak Hatta Rajasa sebagai cawapres. Pak Hatta salah satu guru, orang tua, senior, kakak yang mempengaruhi perjalanan saya..
Interaksi langsung itu memberi gambaran sosok Pak Prabowo yang sama dengan cerita Mas Imam-bertolak belakang dengan yang saya dengar, saya baca dari tulisan-tulisan yang beredar sejak Pak Prabowo mengikuti pilpres 2009-berpasangan dengan Ibu Megawati. Saya paham, framing untuk menjatuhkan Pak Prabowo masa itu memang kejam…
Sungguh saya beruntung memperoleh jalan untuk lebih dalam mengenal Pak Prabowo melalui orang-orang (sahabat saya) di sekitar beliau yang sangat dipercaya beliau. Maaf, saya tidak menuliskan nama-namanya di sini.
Sejak september 2017 itu, saya berproses dengan tekun dan sabar dengan sahabat saya-mengerjakan tugas apa saja yang mereka berikan…..
Saya menemukan budaya yang baik: adab kepada senior, sopan santun, menghargai orang lain dan yang paling jarang saya temukan di sebuah organisasi politik: ingin sahabatnya juga sukses…
Pertanyaan di benak saya selalu sama: apa mungkin seorang pemimpin biasa bisa menggerakkan sekelilingnya memiliki budaya unggul? Mustahil!
Melihat apa yang dilakukan Pak Prabowo bagi saya menjadi sangat mudah: bagaimana perilaku dan adab orang-orang di sekitar beliau yang menjadi sahabat saya itu…
Dalam konteks kepemimpinan publik misalnya: Pak Prabowo berpikir dan bertindak simpel: pokoknya kalau merugikan rakyat, menindas orang kecil itu pasti salah dan harus segera diluruskan. Tak peduli bagaimana regulasi yang ada, regulasinya harus disempurnakan untuk kepentingan terutama orang-orang kecil. Kasus-kasus mutakhir seperti penjualan tabung LPG bersubsidi atau gas melon, pagar laut menunjukkan konsistensi pembelaan beliau terhadap orang kecil…
Beliau juga selalu mengulang-ulang frasa yang sama: Kebocoran, Korupsi, pemborosan, kemandirian, swasembada dan hilirisasi…
Frasa-frasa tersebut menunjukkan konsistensi absolut betapa muaknya beliau dengan perilaku koruptif, perilaku boros, dan upaya licik siapa saja yang menyebabkan uang negara bocor dengan menggambarkan secara numeratif tentang perbandingan angka ICOR (Incremental Capital Output Ratio)-suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital baru yang dibutuhkan untuk menaikkan/menambah satu unit output-negara-negara maju dengan Indonesia..
Di saat bersamaan Pak Prabowo juga menyampaikan keyakinan secara konsisten perlunya kita sebagai bangsa mandiri, mampu swasembada di bidang apa saja terutama pangan dan melakukan hilirisasi untuk menghasilkan nilai tambah dari hasil tambang/mineral dan alam kita.
Kembali pada awal pembuka tulisan ini, di usia 17 tahun pegabdian Partai Gerindra pada bangsa dan rakyat Indonesia di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, tak mungkin memiliki capaian seperti sekarang ini tanpa keteladanan dari para pemimpinnya terutama dari Pak Prabowo. Saya menyebutnya Pak Prabowo telah melakukan bunuh diri kelas, seorang yang mampu untuk menikmati apa saja dalam hidupnya karena kemampuan ekonomi dan status sosialnya-dibuang semua peluang itu untuk berbagi dan hidup biasa sebagai pemimpin demi rakyatnya bisa sejahtera. Bukankah ini keteladanan yang diberikan pemimpin dari jaman kenabian?
Saya dan lebih banyak orang secara fisik jauh, jarang bahkan tak pernah berinteraksi gagasan maupun dialog dengan Pak Prabowo secara langsung namun begitu semangat dan cukup paham apa yang menjadi perjuangan beliau. Malu rasanya bila harus kalah semangat dengan orang-orang yang kita temui di kampung-kampung di dusun-dusun pelosok seantero republik cas cis cus mengekspresikan semangatnya bila mendengar arahan dan mencontoh keteladanan Pak Prabowo.
Harapan mereka itu, kader gerindra, masyarakat luas rakyat Indonesia yang hanya bisa melihat semangat Pak Prabowo, teladan Pak Prabowo dari layar televisi maupun medsos itu harus kita jawab dengan kerja keras dan perjuangan tiada henti. Kata Bung Karno: For a fighting nation there is no journeys end!
Lha kita ini khan fighters, ya nggak sedulur….
Dirgahayu 17 Tahun Partai Gerindra
Munjul, 6 Pebruari 2025

Tinggalkan komentar