Sungguh saya terispirasi untuk menulis dalam konteks yang lain mengenai judul tersebut setelah membaca buku Positive Parenting Muhammad Fauzil Adhim.
Saya awali dengan mengutip tulisannya:
Suatu ketika, saya mendapat undangan untuk berbicara pada acara akhirus-sanah-tutup tahun-sebuah madrasah tsanawiyah. Saya diminta untuk memberi mau ‘izhah tentang pendidikan anak. Temanya terserah saya. Sebelum naik mimbar, seperti umumnya berbagai acara di negeri ini ada serangkaian sambutan yang berderet-deret. Salah satunya dari pimpinan lembaga tersebut.
“Anak-anakku sekalian, alhamdulillah kalian bisa menunjukkan bahwa meskipun kalian sekolah di Madrasah Tsanawiyah, tetapi kalian tidak kalah dengan murid-murid sekolah umum. Dengan mengikuti Ebtanas, kalian bisa membuktikan bahwa tsanawiyah tidak kalah dengan SMP. Kalian nanti bisa masuk SMA umum, tidak hanya sekolah aliah. Meskipun begitu, bagi yang bersekolah di aliah, tidak perlu berkecil hati. Sebab sekarang di aliah juga ada jurusan fisika, biologi, dan lain-lain. Jadi tidak kalah dengan SMA”
Antara sedih dan gembira, antara trenyuh dan marah. Saya trenyuh melihat semangatnya, tetapi sedih mendengar perkataannya. Bapak kita yang bersemangat ini inginnya menyemangati, tetapi tanpa disadari justru merapuhkannya. Seakan-akan membanggakan, padahal yang terjadi sesungguhnya justru menjatuhkan rasa percaya diri. Boleh jadi salah seorang diantara mereka memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi saat berada di antara rekan-rekannya, tetapi tidak tatkala berhadapan anak-anak “sekolah umum”. Mereka memiliki rasa percaya diri saat berada di ligkungannya sendiri, tetapi begitu berada di tempat lain, mereka dihinggapi rasa rendah diri.
****
Perlu kita pahami, bahwa animo akhir-akhir ini banyak anak-anak kita secara “mandiri” maupun karena dorongan orang tua dan lingkungannya memilih menuntut ilmu di pesantren/sekolah agama dan fokus mempelajari ilmu agama adalah pilihan dan “passion”nya. Mereka memilihnya karena keinginan dan motivasinya terhadap ilmu tersebut sama bobot semangatnya dengan anak-anak yang memilih belajar ilmu umum. Dan tidak perlu para pengelola pesantren maupun sekolah agama memberikan keyakinan pada orang tua/wali atau calon orang tua/wali bahwa nanti para santri akan juga dibekali dengan ilmu-ilmu umum seperti interpreneur agar kelak bisa hidup mandiri. Demikian halnya sekolah umum yang mempelajari saint, dengan memberikan tekanan plus nanti siswa akan dibekali ilmu agama agar mereka bisa menjadi pribadi yang kokoh dan bertakwa. Karena sesungguhnya ilmu-ilmu tersebut diperlukan meskipun dengan porsi sesuai fokus minatnya. Intinya tidak boleh kita merendahkan bidang ilmu tertentu dibandingkan dengan ilmu yang lainnya yang membuat penuntut ilmunya rendah diri. Semua bidang ilmu itu hebat jika penuntutnya serius dan fokus.
Saya mengingat juga dalam sebuah acara pemberian santunan oleh seorang pejabat di sebuah panti asuhan yatim:
“Ananda sekalian, hari ini Bapak datang mengunjungi kalian untuk mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wata’ala dengan berbagi kebahagiaan. Belum lama ini anak Bapak yang pertama lulus sebagai dokter. Nanti kita akan makan bersama dan Bapak akan memberi kalian hadiah tas sekolah dan uang saku. Semoga bermanfaat ya…..Bapak ingin berpesan juga untuk kalian, sebagai motivasi dan inspirasi hidup. Ananda sekalian, menjadi anak yatim atau orang miskin yang tinggal di panti asuhan itu tidak boleh minder, kalian bisa berprestasi seperti anak-anak yang lain bahkan menjadi pejabat seperti Bapak. Jangan takut bersaing dengan anak-anak yang lain meskipun kalian di panti asuhan, jangan rendah diri meskipun kalian kurang beruntung karena orang tua tidak mampu. Kalian bisa kejar cita-cita kalian seperti anak Bapak, anak-anak orang kaya yang di luar sana”.
- Surat Untuk Kekasih
- Ketika Dunia Mengeras, Mengapa Indonesia dan ASEAN Tak Boleh Diam
- Negara yang Tidak Percaya Kekuasaan
- Dostoyevsky dan Keguncangan Kekuasaan di Masanya
- Hemingway dan Pesan Pencapaian Keabadian: Salju di Puncak Kilimanjaro
- Surat Untuk Kekasih
- Ketika Dunia Mengeras, Mengapa Indonesia dan ASEAN Tak Boleh Diam
- Negara yang Tidak Percaya Kekuasaan
- Dostoyevsky dan Keguncangan Kekuasaan di Masanya
- Hemingway dan Pesan Pencapaian Keabadian: Salju di Puncak Kilimanjaro
Pesan motivasi dan inspirasi si Bapak pejabat tersebut akan menanamkan pikiran pada anak-anak bahwa menjadi anak orang miskin, menjadi anak yatim yang tinggal di panti asuhan itu rendah diri. Alih-alih mereka menjadi percaya diri, bila keluar dari kelompoknya sesama penghuni panti dan bergabung dengan anak-anak di lain akan selalu muncul dalam alam bawah sadarnya perasaan bahwa dia anak panti asuhan yang kurang beruntung, tidak punya ayah/orang tua dan miskin. Padahal tak ada satupun bayi di muka bumi ini yang bisa memilih untuk dilahirkan sebagai anak siapa, orang tua kaya atau miskin, pejabat atau orang biasa, bisa mengasuhnya atau meninggal lebih cepat. Semua karena suratan takdir. Ketika seorang anak manusia yang karena takdirnya harus hidup dibantu oleh orang lain atau lembaga/institusi bukan berarti karena dia menerima bantuan dia rendah, dan yang membantu lebih tinggi, lebih hebat-meskipun Tuhan mengajarkan bahwa orang yang mampu dan mau memberi itu mulia. Keduanya, baik yang memberi maupun yang diberi apabila dalam keadaan ikhlas menerima keadaan hidupnya sama-sama mulia. Si penerima memberi kesempatan si pemberi untuk bersyukur atas karunia Tuhan dengan memberi. Si pemberi mendapatkan pelajaran bahwa hidupnya lebih beruntung dari orang yang diberi karena karunia Tuhan. Karena memang dari mana saja sebabnya rejeki itu datangnya, muaranya dari Tuhan.
Pada kesempatan yang lain saya juga masih ingat bagaimana sambutan seorang tokoh dalam sebuah acara desa:
“Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara sekalian baru saja tim sepak bola anak-anak remaja kita memenangkan kompetisi Bupati Cup. Ini sebuah prestasi luar biasa. Padahal kalian, anak-anak desa, bisa mengalahkan tim kota. Anak desa tidak beda dengan anak kota bisa berprestasi. Kalian harus bangkit seperti anak-anak kota…..”
Sambutan tokoh yang mencoba membangkitkan semangat anak desa dengan perbandingan anak kota, secara tak sadar membuat anak-anak desa bila ketemu anak kota menjadi minder, rendah diri sebagai anak desa. Tempat lahir seorang anak dan dimana ia dibesarkan itu bukan pilihannya tetapi karena orang tuanya. Anak kota dan anak desa itu sama, anak-anak yang lahir dari ibunya. Orang tua dan lingkungan dimana dia dibesarkan akan membetuknya menjadi apa. Bukan karena status desa atau kotanya. Banyak anak-anak desa karena orang tuanya mendidik dengan cara yang benar dan kemampuan terbaiknya melesat menjadi meteor. Tidak sedikit anak-anak yang lahir di kota menjadi bandel karena kelalaian orang tuanya dalam mendidik dan lingkungannya yang kurang baik. Apalagi jaman ini sudah tidak begitu relevan membandingkan desa dengan kota, karena hampir semua akses informasi memasuki kamar-kamar orang desa maupun orang kota tanpa batas.
Dari tiga keadaan tersebut, banyak sekali hal bila kita renungkan dan evaluasi, di sekeliling kita dan mungkin pernah kita lakukan kepada anak-anak yang maksudnya memompa semangat mereka untuk maju dan bangkit justru membenamkan rasa rendah diri kepadanya.
Munjul, 22 September 2022
Tinggalkan komentar