Hidup Bermanfaat

Hal Yang Paling Dicari Manusia

Kita, manusia selalu berusaha untuk memenuhi keinginan dalam hidup kita; ingin sehat, banyak duit, harta berlimpah, usaha/karier terus menanjak dan hidup bahagia. Segala usaha dibarengi doa terus dilakukan untuk mencapai itu. Setelah semuanya tercapai kita tak pernah merasa puas dan terus mencari hal yang kita inginkan lebih baik dan lebih banyak lagi. Kita lupa bahwa dari seluruh keinginan yang kita miliki intinya hanya satu keberkahan….
Seorang muslim dalam mengawali setiap aktifitas dianjurkan untuk berdoa. Sebelum makan, kita berdoa:

‎اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar.”

Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

Dari doa sebelum makan tersebut, Allah swt. mengingatkan tentang keberkahan rezeki yang kita terima dari-Nya.

Dalam sholat, kita diajarkan untuk bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‎اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

(Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, innaKa Hamidum Majid.

Allahumma barik (dalam satu riwayat, wa barik, tanpa Allahumma) ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaKa Hamiidum Majid).

Ya, Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.

Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.
[HR Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hlm. 165-166, karya Al Albani, Maktabah Al Ma’arif].

Dalam lafaz sholawat tersebut terdapat sholawat Ibrahimiyat:

Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim….

BERKAH, tambahan kebaikan untuk Nabi muhammad dan keluarganya sebagaimana tambahan kebaikan yang telah diterima oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Kenapa tentang berkah kita semua harus berkaca kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya?

Dalam Kisah Para Nabi : Sejarah Lengkap Kehidupan para Nabi sejak Adam A.S. hingga Isa A.S, karya Ibnu Katsir dituliskan:

Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengajak isterinya, Siti Hajar dan putranya Ismail, ke daratan tandus dan kering di antara dua bukit. Sebuah gurun yang sangat panas, gersang tanpa peradaban. Ibrahim harus meninggalkan mereka di sana. Kemudian Siti Hajar bertanya tanya, mengapa suaminya meninggalkan dia dan Ismail anaknya yang masih kecil di padang pasir yang tak bertuan?

Siti Hajar mengikuti Nabi Ibrahim yang hendak pergi sambil berkata, “Wahai Ibrahim, engkau hendak pergi ke mana? Apakah engkau hendak pergi meninggalkan kami sementara di lembah ini tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada makanan sama sekali?”

Pertanyaan Siti Hajar diucapkan berkali kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menoleh dan tidak pula menjawab, hingga akhirnya Hajar berkata kepada sang Nabi, “Apakah Allah memerintah kan hal ini kepada mu?”
Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar kemudian berkata, “Jika demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Setelah itu, Hajar tak bertanya lagi.

Dialog penting dalam kutipan tersebut adalah pertanyaan Ibu Hajar kepada Nabi Ibrahim AS.
“Apakah Allah memerintahkan hal itu kepada mu?”
Nabi Ibrahim menjawab: “Ya”
Lalu Ibu Hajar berkata: “Jika demikian Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”

Ibu Hajar mengingatkan dan meyakinkan kita semua bahwa selama kita mengikuti semua hal yang datang dari Allah subhanahu wata’ala, ringan atau berat, senang atau susah, menyenangkan atau tidak yakinlah Allah tidak akan menyia-nyiakan kita, bimbingan dan pertolongan-Nya pasti akan kita dapatkan.

Keyakinan Ibu Hajar benar. Di lembah yang tandus dan tak ada kehidupan itu, setelah semua perbekalan yang dimiliki habis dan putranya Ismail yang masih bayi terus menangis, Allah subhanahu wata’ala menganugrahkan air, dari mata air zam-zam (mineral)-sesuatu yang tidak mungkin menurut teori hydro geologi. Di sekitar lembah yang tandus itu susunan bebatuannya adalah batuan beku, tak mungkin keluar air, sedangkan air tersimpan di batuan sedimen. Namun ketika Allah berkehendak tak ada satupun kekuatan yang bisa menghalangi.

Sumur/Mata air zam-zam yang kaya mineral itu, sudah berusia 3.500 tahun sejak ditemukan oleh Siti Hajar. Tidak pernah kering, bahkan penelitian terakhir debitnya mencapai 8.000 liter per detik. Setiap jamaah haji maupun umroh tidak pernah kekurangan untuk menikmati air zam-zam. Kita belum pernah mendengar otoritas Arab Saudi mengumumkan tentang kelangkaan air zam-zam. Semakin banyak yang meminum sumur itu terus mengeluarkan airnya, tanpa pernah kering.

Dari Keluarga Nabi Ibrahim, Siti Hajar itu kita mendapat pelajaran tentang berkah…

Semakin kita pinter, semakin kita berilmu, semakin kita kaya, semakin kita naik jabatan dan seterusnya tambahan kebaikan harus terus meningkat…
Itulah sejatinya BERKAH

Munjul, Jumat 26 Muharram 1443H bertepatan 3 September 2021

Tinggalkan komentar