Suatu hari Nietzsche berjalan menyusuri suatu jalan dimana ia melihat seekor kuda yang berusaha keras untuk keluar dari sebuah parit, bernafas terengah-engah di bawah muatan berat dari sebuah kereta yang terjungkir di atasnya. Nietzsche mengamati si pemilik sedang berusaha memaksa kuda itu agar keluar dari himpitan sehingga ia tidak akan kehilangan muatan keretanya. Binatang itu sudah demikian terjerembab untuk bergerak, tetapi si pemilik yang nampaknya terlalu sayang pada muatan kereta daripada keselamatan kudanya, mulai mengayunkan cemeti di atas punggung kuda secara sangat bengis. Kuda itu mulai bergerak sedikit keluar dari parit tersebut, tetapi ia gagal dan terjatuh kembali ke dalam parit, salah satu kakinya patah dan kelihatan sangat payah. Marah menyaksikan pemandangan yang mengerikan akibat brutalitas manusia tersebut, filosof tua itu memberitahukan si petani agar menghentikan cambukannya pada kuda yang malang itu. Ia menasehati agar pertama-tama muatan itu diambil terlebih dahulu, baru kemudian kuda itu ditolong keluar dari parit. Tetapi si pemilik tidak menggubris kata-kata Nietzsche. Karena itu ia terus menghujani cambukan dan mendorong kuda itu. Hal membuat marah sang filosof sedemikian rupa sehingga ia melompat dan memegang leher baju si petani, sambil berkata: “Saya tidak akan membiarkanmu mencambuk binatang malang ini begitu kejam!” Akan tetapi petani itu melepaskan diri dan memukul jatuh Nietzsche dan kemudian memukulnya sangat keras, sehingga ia meninggal beberapa hari kemudian. Filosof yang di masa mudanya mencintai kekuasaan dan kekuatan serta memujanya, sekarang berdiri melawan kekuatan itu untuk menyelamatkan mahluk yang lemah dan terinjak-injak; akhirnya ia mengorbankan dirinya untuk suatu cita-cita kemanusiaan.
Jika kita mendengar cerita ini kita akan bereaksi dengan suatu perasaan yang kontradiktif. Kita menyadari bahwa kontradiksi dalam perasaan kita terhadap peristiwa itu disebabkan karena kita memiliki dua kepribadian dalam ke- AKU-an (l-ness). Kepribadian pertama kita menghargai keagungan spiritual Nietzsche, sentimen moral dan nuraninya yang responsif. Ia akan ikut menyertai tindakan pengorbanan itu dalam menyelamatkan suatu mahluk yang malang dari tirani manusia. Ini adalah kepribadian manusiawi kita yang terlalu sensitif untuk mentolelir suatu pemandangan yang kejam dan mengerikan. Tetapi kita punya kepribadian lain yang akan bereaksi terhadap kejadian tersebut dengan cara yang lebih praktis. Ia akan mencemooh pengorbanan Nietzsche atas dirinya demi seekor binatang angkutan. Ia akan melihat seluruh peristiwa itu sebagai lucu dan absurd. “Seorang jenius besar dalam sejarah mengorbankan hidupnya yang sangat bermanfaat demi menyelamatkan seekor kuda? Alangkah pandirnya? Betapa lucu dan tak masuk akal!” Demikianlah ia akan melakukan rasionalisasi.
Tindakan Nietzsche adalah di luar logika. Logika terlalu sempit untuk dapat membenarkannya. Tindakannya adalah tindakan murni berdasarkan cinta—sebagai esensi kesadarannya. Namun jika cinta diambil untuk mengabdi suatu kepentingan pribadi, untuk memenuhi suatu keinginan, untuk memuaskan suatu harapan, itu bukan cinta. Itu adalah dagang. Cinta adalah memberi, bukan mengambil atau mendapatkan kompensasi. Cinta adalah memilih dirinya mati agar yang lain dapat hidup, agar suatu cita-cita menang, agar suatu impian menjadi kenyataan! Ini adalah makna sesungguhnya dari i-thar yang berarti memberikan nyawa sendiri agar yang lain dapat hidup, memilih yang lain hidup sebagai ganti dirinya dan mengorbankan diri sendiri supaya yang lain dapat hidup. Jika ia mengetahui bahwa kematiannya akan menyelamatkan suatu kehidupan atau cita-cita, ia memilih mati agar yang lain hidup, ia akan memilih kematian dirinya, kematian kepentingannya, namanya, kekayaannya, segala yang ia miliki—agar yang lain dapat diselamatkan
Dari buku Ali Shariati, Tugas Cendikiawan Muslim — Empat Penjara Manusia, Halaman 79-81
Tinggalkan komentar