Oleh: Azis Subekti-Peneliti Evello
Beberapa minggu ini saya sering bertemu dengan pihak yang tengah membangun sistem OSINT (Open Source Inteligent) di beberapa lembaga penting di Indonesia.
Obrolan kami tentu seputar kepintaran aplikasi tersebut dalam mem-profile pengguna media sosial termasuk kemampuan penguasaan dan pengambilalihan account medsos. Sebagai peneliti senior di lembaga yang berkutat terkait monitoring media online dan medsos, saya sangat tergelitik dengan klaim tersebut apalagi jejaring sosial dengan platform tertutup seperti whatsupp juga bisa dicrawling bahkan diintercept. Meski kemampuan teknologi bisa saja menjangkaunya tapi prosedur teknisnya sangat-sangat rumit dan hampir tidak mungkin. Bahkan setiap aplikasi jejaring sosial sekaliber facebook, twitter dan WhatsUpp tentu sudah berlapis dalam melindungi penggunanya. Saya sampaikan kalau mesin itu bisa melakukan pengabilalihan account, sebentar lagi semua jejaring sosial akan bangkrut, karena tak ada lagi pelanggan yang mau menggunakan jejaring medsos tersebut.
Berselang waktu sekitar seminggu lalu, kami tim Evello melakukan perjalanan ke Sukabumi, dan secara kebetulan kami mendiskusikan tentang perbincangan bocornya data pengguna facebook oleh Cambriage Analitica. Kami menemukan berbagai fakta bahwa sebagai perusahaan yang terus mengembangkan platform jejaring sosialnya perusahaan sekelas facebook tentu terbuka untuk bekerjasama dengan berbagai lembaga riset termasuk universitas dalam penelitian tertentu.
Diketahui facebook pernah menjalin kerjasama penelitian dengan Cambriage University dan data-data terkait pengguna tentu dibuka untuk keperluan penelitian, sekali lagi hanya untuk keperluan penelitian. Begitu penelitian itu selesai mestinya data itu tetap aman karena mesti dikembalikan atau dihancurkan seluruhnya dan tidak dibenarkan dipergunakan untuk keperluan di luar riset. Nyatanya data-data tersebut berpindah tangan ke pihak lain dan diluar dugaan untuk keperluan memenangkan Presiden Donald Trump dalam kampanye pilpres Amerika Serikat pada pemilu tahun 2016 lalu.
Akhirnya dari fakta ini terkuak juga bahwa klaim tentang aplikasi yang mampu membobol account medsos termasuk facebook saya yakini memanfaatkan data tersebut. Dari kebocoran data 50 juta pelanggan tentu secara sebaran bisa jadi juga pengguna asal Indonesia.
Kabar tentang bocornya data facebook mulai ramai, bahkan Pemerintah Inggris saat ini tengah menyelidiki soal perlindungan data pengguna media sosial Facebook terkait dengan faktor yang menguntungkan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat pada 2016 itu.
Ini dilakukan setelah seseorang whistleblower (pelapor tindak pidana) mengungkapkan fakta soal konsultan politik Cambridge Analytica, yang diduga disewa Presiden Donald Trump, dengan cara tidak benar mengakses data informasi 50 juta pengguna Facebook untuk mempengaruhi opini publik.
Akibat hal itu, saham Facebook (FB.O) ditutup turun hampir 7 persen atau senilai $US 40 miliar dari nilai pasar pada Senin (19/03) lalu waktu setempat. Investor khawatir rusaknya reputasi media sosial terbesar di dunia itu akan mengurangi jumlah pengguna dan pengiklan.
Isu ini tentu sangat menekan posisi facebook baik sebagai entitas bisnis maupun teknologi yang tengah merangkak naik. Bagi saya, facebook telah menjadi bagian penting dari nafas keterbukaan dan komunikasi sosial dunia termasuk Indonesia. Saya berharap issue tak sedap yang sedang menerpa Facebook segera berakhir dan kita nanti pernyataan resmi Zugerberg terkait hal ini. Kita masih memerlukan Facebook, #SaveFacebook
sumber artikel tempo.co.id
Tinggalkan komentar