(Diringkas dari kanal berita internasional kompas.com)
Sejak Mustafa Kemal Ataturk mendirikan Republik Turki pada 1923, dia dengan tegas melarang para perwira militer yang masih aktif berdinas menggeluti politik. Perintah tegas itu kemudian dituangkan di dalam hukum militer nomor 1632 pada 22 Mei 1930. Sejak saat itu, militer Turki memosisikan diri sebagai penjaga sekularisme dan ideologi Kemailsme atau Ataturkisme.
Ideologi ciptaan Kemal Ataturk itu pada intinya ingin memisahkan Republik Turki dengan citra Kekaisaran Ottoman di masa lalu serta mengadopsi cara hidup Barat untuk masyarakat Turki. Cara hidup barat yang diadopsi Turki adalah demokrasi, kesetaraan hak untuk perempuan, sekularisme, dukungan terhadap kemajuan sains dan pendidikan murah dan banyak hal lainnya.
Salah satu hal terpenting dalam perkembangan Republik Turki adalah diadopsinya sekularisme yaitu pemisahan antara urusan pemerintahan dan masalah agama. Hal besar lain yang dilakukan Ataturk adalah dengan resmi membubarkan Kekaisaran Ottoman pada 3 Maret 1924. Dia juga menghapus kalimat “Islam adalah agama negara Turki” dari konstitusi pada 5 Februari 1937.
Dengan dasar ini, Turki melarang segala sesuatu yang berafiliasi dengan agama apapun baik dari sisi politik hingga kehidupan sehari-hari. Sejak masa pemerintahan Ataturk, semua simbol-simbol keagamaan di luar rumah-rumah ibadah tak boleh ditampilkan. Namun, Ataturk masih memperkenankan warga, khususnya umat Islam, mengenakan busana Muslim, seperti hijab atau kerudung bagi perempuan. Namun, aturan berubah pada 1982 menyusul kudeta militer pada 1980 oleh para perwira militer penganut ideologi Kemalis garis keras.
Setelah berkuasa usai kudeta, militer bahkan melarang perempuan Muslim mengenakan hijab atau kerudung di institusi pemerintahan atau universitas. Langkah ini mendapat kecaman dari parlemen Eropa dan pengadilan HAM Eropa saat itu.
Pasang surut dinamika politik Turki terus berlanjut menyusul ideologi sekularisme yang berbenturan dengan semangat keislaman kekhaisaran Ottoman. Pergantian perdana menteri karena kudeta telah berulang, tak lain karena militer sebagai penjaga ideology sekularismenya Mustafa Kemal Attarktur, selalu mengawasi pemerintahan yang dipimpin oleh para politisi seperti Perdana Menteri Necmetin Erbakan (1966-1967) yang membawa semangat keislaman Kekhaisaran Ottoman. Ia terguling karena kudeta militer. Militer selalu mengambil celah untuk kudeta, manakala ideology sekularisme terganggu. Dan sejak saat itu Erbakan dilarang berpolitik.
Kemunculan Erdogan
Meski dilarang berpolitik, Erbakan tetap menjadi guru politik bagi beberapa orang, salah satunya adalah Recep Tayyip Erdogan. Kedua orang ini sudah saling kenal sejak Erdogan masih menjadi mahasiswa di Universitas Marmara, Istanbul.
Perjuangan politik Erdogan penuh dengan tantangan dari penguasa. Berbagai penghadangan oleh penguasa dengan back up militer yang kejam dan sangat diskriminatif Ia hadapi. Ia juga keluar masuk penjara. Bukan Erdogan namanya bila tak lolos dari situasi tersebut. Perjuangan Erdogan mulai berbuah, pada 2001, Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang langsung memenangkan pemilihan umum 2002 dengan merebut hampir dua per tiga kursi parlemen.
Kemenangan Erdogan kemungkinan besar terkait dengan kondisi perkonomian Turki yang morat-marit saat itu sebagai warisan dari kudeta 1997 terhadap Erbakan.
Usai kudeta itu, Turki dibayangi kekacauan politik di mana para politisi tak bisa membentuk pemerintahan yang kuat, ujungnya dunia internasional tak mau berinvestasi di Turki.
Krisis ini memuncak pada Februari 2001 ketika bursa saham Turki hancur, suku bunga mencapai 3.000 persen dan nilai tukar lira Turki terhadap dolar jatuh amat drastis. Saat itu satu dolar AS setara dengan 1,5 juta lira Turki.
Alhasil dalam delapan bulan pertama 2001, sebanyak 14.875 lapangan pekerjaan hilang dan bank sentral Turki kehilangan 5 miliar dolar AS karena banyaknya warga Turki yang menukarkan uangnya dengan dolar AS.
Itulah kondisi ekonomi yang diwarisi Erdogan saat menduduki jabatan perdana menteri pada 2002. Sama seperti saat menjadi wali kota Istanbul, Erdogan melakukan hal terpenting terlebih dahulu yaitu memperbaiki perekonomian Turki.
Dan Erdogan terbukti sukses memperbaiki ekonomi Turki. Saat pertama kali menjadi perdana menteri, Erdogan mewarisi utang ke IMF sebesar 23,5 miliar dolar AS dan pada 2012, utang tersebut tersisa 900 juta dolar AS.
Demikian juga dengan cadangan devisa Turki. Pada 2002, bank sentral Turki hanya memiliki cadangan devisa sebesar 26,5 miliar dolar AS. Jumlah itu meningkat hingga 92,2 miliar AS pada 2011.
Pada 2012, Turki memiliki rasio utang terhadap GDP yang terendah dari 21 anggota Uni Eropa dan defisit anggaran terkecil dari 23 anggota Uni Eropa.
Prestasi Erdogan lainnya adalah meningkatkan jumlah universitas di Turki, menambah jumlah bandara, menambah jumlah jalan tol, menambah rel kereta api dan kini tengah membangun jalur kereta api cepat.
Selain itu, pemeirntahan Erdogan juga membangun terowongan Marmaray di bawah Selat Bosphorus yang menghubungkan sisi Eropa dan Asia kota Istanbul.
Berbagai keberhasilan ini membuat Turki kini menjadi salah satu negara dengan perekonomian yang diperhitungkan di dunia.
Kesuksesan ini pula membuat Erdogan tetap mendapatkan dukungan besar dari rakyat, bahkan di saat perekonomian Turki menurun pada 2014 dengan angka pertumbuhan hanya 2,9 persen dan angka pengangguran meningkat di atas 10 persen.
Tinggalkan sekularisme?
Yakin dengan dukungan rakyat ini, Erdogan terpilih menjadi presiden pada 2013 dan kemudian memperbesar wewenang presiden yang selama ini hanya sebatas peran seremonial.
Di masa pemerintahannya, pemerintah Turki mulai sedikit demi sedikit mencabut berbagai larangan yang diberlakukan pemerintah Turki yang sekuler.
Pada 2013, Erdogan mencabut larangan mengenakan jilbab di ruang publik dan institusi pemerintahan, kecuali di institusi hukum, militer dan kepolisian.
Para lawan politik Erdogan, menuduh pria kelahiran 1954 itu tengah berupaya mengubah Turki dari sebuah negeri sekuler menjadi negeri dengan asas Islam.
Upaya Erdogan melarang minuman beralkohol hingga keputusan Erdogan tetap memerangi etnis Kurdi yang melawan ISIS, dianggap sebagai pertanda Turki akan meninggalkan sekularisme.
Tak hanya itu, Erdogan juga dianggap mulai menjadi pemimpin otoriter, salah satunya dengan membangun istana megah di ibu kota Ankara.
Istana yang dinamai Ak Saaray atau Istana Putih itu berdiri di atas sebuah bukit dan memiliki 1.000 kamar. Bangunan ini jauh lebih besar dari Gedung Putih atau Kremlin dan didirikan dengan biaya 615 juta dolar AS.
Erdogan berulang kali membantah tuduhan bahwa dia akan menggiring Turki meninggalkan sekularisme warisan Kemal Ataturk dan membantah dia kini menjadi seorang pemimpin otoriter.
Meski demikian, kekhawatiran bahwa Turki akan menjadi negara sektarian tak bisa hilang begitu saja, terutama dari benak para penjaga ideologi, yang tak lain adalah militer.
Kekhawatiran inilah yang kemungkinan menjadi dasar sebagian anggota militer Turki memutuskan, untuk melakukan kudeta seperti pernah dijalankan para senior mereka di masa lalu.
Bedanya, militer Turki sekarang tak satu suara dalam hal ini bahkan panglima militer negeri itu sudah menegaskan akan memberantas para pembangkang. Keberanian rakyat turun ke jalan menghadapi militer yang bersenjata lengkap menjadi faktor terpenting kegagalan kudeta militer keempat dalam sejarah Turki modern yang beberapa bulan lalu terjadi.
Semangat kehidupan keislaman yang dibawa Erdogan tersebut diakui oleh Ketua Umum BAZNAS Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc. Ia berkesempatan mengunjungi Turki baru-baru ini setelah sebelumnya juga berkunjung semasa pemerintahan sekuler. Ia mengakui Islam menjadi inspirasi utama gelora penduduk Turki sekarang ini.
Ia menulis: Cerita yang mengagumkan bukan tentang gemerlap kota Istambul yang menyolok terlihat dari pesawat apabila melintasi Eropa, atau para wanitanya yang berwajah elok, tapi tentang kehidupan relijius yang semakin pesat. Turki benar-benar berubah 180 derajat sejak dipimpin Presiden Erdogan.
Sekarang masjid-masjid sangat ramai dengan pemuda yang beribadah dan juga kegiatan keislaman. Terutama yang paling mengagumkan adalah ketika waktu sholat subuh tiba, masjid di Turki penuh sesak dengan jamaah yang didominasi kaum muda, suasana yang mirip dengan di Indonesia, pada shalat Jum’at. Saya pernah berkunjung ke Turki sekitar tahun 1990-an, saat itu Turki masih sangat sekuler. Jangankan waktu shalat subuh, dikala adzan maghrib pun tidak ada yang pergi shalat berjamaah. Saat itu saya shalat hanya dengan istri dan anak, sebab tiada jamaah setempat yang datang.
Pemerintah Turki telah lama serius mencanangkan 3 Program Nasional (bagi pemeluk agama Islam) yaitu:
- Gerakan Shalat Subuh berjamaah di Masjid.
- Gerakan Infaq Sedekah.
- Gerakan Ekonomi Umat.
Program terobosan gerakan shalat subuh berjamaah di masjid memperoleh sambutan luar biasa dari masyarakat, dengan hasil mencengangkan. Shalat subuh menjadi sangat ramai seperti shalat jumat di Indonesia.Tentu saja keberkahan shalat subuh berjamaah mendapatkan hasil di luar nalar, dibuktikan dengan teratasinya berbagai kesulitan nasional Turki yang sebenarnya tidak mudah, apalagi Eropa beberapa tahun lalu menderita krisis ekonomi.
Tinggalkan komentar