PART IV Sejuta Mujahid Yang Menyemut di Sekitar Istana Tidak Gentar
Sisi Medan Utara dibombardir, setelah sisi Medan Barat berhasil dipukul mundur dengan puluhan tembakan gas air mata. Sekitar 150 mujahid terluka. Bpk Syahrie Oemar Yunan tewas di rumah sakit akibat sesak nafas diserang gas air mata.
WA messenger kerap berbunyi. Sejumlah teman bertanya soal kondisi lapangan. Ada yang ngabarin kepanikan saudaranya yang tinggal di Pluit. Warga Tionghoa dihantui kecemasan. Mereka takut serangan keras pemerintah terhadap para mujahid meluas menjadi chaoz massal.
Saya berada di salah satu ruang kerja staf Mahkamah Agung. Di sana, kami diskusi, mengavaluasi dan membahas kemungkinan dampak dari pembubaran paksa tersebut.
Sebagian besar mujahid bergerak mundur menuju Gedung DPR. Sebagian lagi mundur ke Masjid Istiqlal. Bila ulama menginstruksikan mujahid kembali ke istana, maka show down belum berakhir.
TV One menayangkan slide tiga mobil terbakar, konferensi pers Wapres, interview Wiranto, dan arus massa di Bunderan HI.
Ada gambar Habib Rizieq di atas mobil komando yang bergerak mundur. Air mukanya sangat tenang menghadapi krisis. Tiada rasa ketakutan tergores di matanya. Sosoknya jadi sedemikian sejuk di tengah kemelut.
Saya kira, bila saat itu Habib Rizieq dan para ulama memberi instruksi agar mujahid kembali ke istana, maka the state of war tak terelakan. Harganya tinggi sekali. Jokowi bisa jatuh.
Saya lihat, sejuta mujahid yang menyemut di sekitar istana tidak gentar. Mereka tidak kembali karena patuh perintah ulama.
Ketika kondisi genting, Laskar FPI justru berlari ke depan. Menerobos barisan umat. Saya kira mereka siyap menjadi benteng hidup melindungi mujahid tak terlatih.
Edot mengirim pesan WA. Penjaringan rusuh. Ada gerakan “sweeping mobil”. Sasarannya etnis Tionghoa. Sebuah mini market dijarah massa. Elshinta mengabarkan ada lima toko dirusak. Polisi kabur.
Ketua Pengurus Masjid Keramat Luar Batang, Bang Faisal, menginstruksikan warganya agar tidak keluar kampung dan ikut gerakan anarkis.
Saya dan Lieus Sungkharisma baru keluar gedung MA setelah dapet kepastian kabar dari Istiqlal. Ulama memberi instruksi aksi selesai untuk malam ini. Para mujahid diminta beristirahat.
Suasana di luar Gedung MA mencekam. Berantakan. Bau gas air mata samar-samar masih tercium. Sejumlah tentara dan polisi duduk beristirahat. Sebagian terkapar seperti orang-mati, akibat kelelahan.
Rombongan mujahid dan ulama diterima Komisi III dan Ketua MKD DPR-RI, Bpk Sufmi Dasco. Mereka berdialog sampai jam tiga pagi.
Supir taxi mengabarkan bahwa ada pengumpulan massa di sekitar Tanjung Duren. Dia marah melihat perilaku Ahok. Baginya, Ahok bisa memicu kerusuhan massal.
Polisi menutup akses Jl. Gajahmada menuju Pasar Ikan. Kami harus berputar masuk Jl. Ketapang. Akses jalan utama sekitar Glodok ditutup warga dan hansip. Mereka bilang, “Pasar Ikan rusuh”.
Menurut Dharma Diani, warga Luar Batang, suara tembakan berlangsung sampai subuh. Polisi berhasil menangkap 15 orang penjarah. Bareskrim menyatakan aksi anarkis di Penjaringan tidak berkaitan dengan unras di istana.
Saya kira komunitas Tionghoa dan Nasrani perlu mengevaluasi keberpihakannya terhadap Ahok yang minim prestasi, arogan, bermulut kasar, dan memicu unras besar umat Islam. Kemelut ini tidak akan berakhir sebelum hukum dan keadilan ditegakan.
THE END
Tinggalkan komentar