PART III : Hanya Ghirah Islam Yang Mampu Memobilisasi Jutaan Manusia
AM Fatwa, seorang demonstran, bilang aksi damai 4 November adalah pengumpulan massa terbesar. Tidak pernah terjadi di kemelut politik tahun 1966, 1978, 1998.
Tidak ada partai di Indonesia sanggup memobilisasi massa sebanyak aksi damai 4 November. Tidak PNI, PKI, Golkar, PDI-P. Apalagi partai gurem macam Nasdem. Hanya ghirah Islam yang sanggup menyatukan sedemikian banyak manusia.
Kerapatan massa membatasi jarak pandang. Saking asik membersihkan sampah, anak-anak GEMAHBUDI raib.
Kedua ruas Jalan Medan Merdeka Utara penuh sesak mujahid. Akses menuju istana diblokade tameng dan gulungan razor wire. Ada mobil water canon. Sejumlah ustad dan ulama berorasi di atas dua unit mobil komando. Suara loudspeakernya terlalu lemah.
Rombongan utama ada di sisi Medan Merdeka Barat. Di sana, para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat berorasi.
Negosiasi pertama diwakili 2 orang Juru Runding GNPF MUI yaitu; KH. Bachtiar Nasir, dan KH. M. Zaitun Razmin. Istana menugasi Menkopolhukam Wiranto menerima delegasi umat. Para mujahid meminta bertemu Presiden Jokowi. Perundingan pertama deadlock.
Beberapa hari sebelum aksi digelar, Presiden Jokowi sudah memberi sinyal tidak akan menemui para mujahid. Kali ini dia blusukan ke Bandara Soetta. Mendadak. Sepi manusia. Dia meninjau proyek kereta bandara.
Ahmad Dhani merasa Jokowi tidak menghargai para ulama dan habaib yang meminta audiensi. Bagi Dhani, para ulama adalah penerus Rasululloh. Saking marahnya, Dhani menyebut “Jokowi An***g”.
Juru Runding kembali mendatangi istana. Pihak istana kekeuh menawarkan Menko Polhukam. Negosiasi kedua pun deadlock. Jokowi tidak memberi sinyal akan kembali ke istana.
Seorang kawan yang berada di sisi Medan Barat mengirim foto-foto sniper yang katanya ditempatkan di atas gedung RRI. Ada beberapa jendela terbuka di Gedung Mahkamah Agung (MA).
Saya perlihatkan foto-foto sniper itu kepada beberapa mujahid, sambil menunjuk ke arah daun jendela yang terbuka. Kami pun tertawa. Para mujahid tampak rilex. Sekali pun kemungkinan bahaya terburuk selalu ada di depan mata. Kita tidak pernah tau, bagaimana reaksi aparat dan istana beberapa jam yang akan datang.
Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya mendatangi mobil barisan aksi di Medan Barat. Mereka datang menemui Habib Rizieq, menawarkan dialog dengan Wapres Jusuf Kalla. Habib Rizieq Syihab bersedia memenuhi tawaran tersebut dengan “jaminan” agar Wapres JK bersedia memerintahkan Kapolri untuk menangkap Ahok hari ini juga.
Dialog juru runding dan Wapres JK berlangsung alot. Kali ini, KH Misbahul Anam ikut dalam rombongan juru runding. Pertemuan selesai sekitar waktu magrib. Wapres JK menyatakan akan memproses Ahok secara cepat, tegas dan transparan. Dua minggu, kasus ini akan dituntaskan. Demikian kata Wapres JK.
Para mujahid tidak menerima hasil tersebut. Teriakan anti jokowi terdengar. Mereka sepakat bermalam di depan istana. Mujahid perempuan bergerak meninggalkan lokasi. Situasi mulai tegang. Wiranto sudah memberi warning batas waktu aksi sampai jam 6 petang.
Masjid MA dan tamannya dijadikan tempat sholat berjamaah. Mujahid berbaris rapih, tenang, antri air untuk berwudhu.
KH Arifin Ilham berinisiatif bernegosiasi langsung dengan Wapres JK.
MEMASUKI bad’ah Isya, suara ledakan mulai terdengar di sisi Medan Barat. Seorang pemuda mujahid bilang itu petasan. Beberapa mujahid berseru “hati-hati provokasi”.
Suara letupan terdengar lagi. Semakin lama suaranya semakin sering. Ruas jalan dibuka. Laskar FPI menerobos menuju ke depan barisan. Kami tau, kawan-kawan di sisi Medan Barat sedang ditembaki aparat. Suara dentumannya semakin keras dan semakin banyak.
Setiap kali dentuman keras terdengar, mujahid serempak berteriak “Allahuakbar”.
Sekali lagi ruas jalan dibuka. Laskar FPI lain berlari merobos ke depan. Mata mulai terasa perih. Sekarang, semua orang telah membalurkan pasta gigi di bawah mata.
Seorang mujahid berkata, “Masa kita harus berkelahi dengan polisi. Mereka juga saudara-saudara kita. Hanya karena seorang Ahok.”
Suara letupan keras terdengar lagi. “Allahuakbar” bergema. Kali ini, barisan serempak maju ke depan. Namun tertahan kembali. Ada suara-suara, “satu komando”, “Tenang-tenang”.
Saya tau teman-teman sedang ditembaki di sisi lain. Namun ini aksi damai. Para Ulama dan Habaib belum memberi instruksi ofensif. Semua orang menahan diri. Ust Arifin Ilham tertembak. Kami yang berada di sisi Utara menunggu giliran.
Sebuah peluru gas air mata tiba-tiba terjun bebas. Barisan mundur tiga langkah pelan. Tiba-tiba, kami diberondong gas air mata.
Saya ikut arus masuk halaman gedung MA. Bagian terbesar mundur ke belakang. Hujan gas air mata terus menerjang. Saya dan sejumlah mujahid berlindung di dalam pos satpam.
Gas air mata terus dilontarkan. Jumlahnya semakin banyak. Sebagian masuk ke halaman MA. Mata semakin perih, hidung terasa pedas dan dada mulai sakit. Sampai akhirnya, saya bilang kita harus keluar dari pos kecil itu. Entah, berapa puluh kali kami ditembaki gas air mata.
Saya masuk ke dalam ruang kerja komandan jaga MA. Lieus Sunghkarisma dan seorang pimpinan mujahid dari Kapuk sudah di sana.
Sejumlah kawan mengirim pesan WA. Rupa-rupanya, serangan gas air mata disiarkan di TV One. Kepanikan merebak.
Tinggalkan komentar