Hidup Bermanfaat

Pro Kontra Harga Rokok

Isu tentang naiknya harga rokok masih terus diperbincangkan publik. Di media sosial Twitter bahkan sampai jam 12an siang ini masih masuk di papan trending topic. Banyak bermunculan meme yang berupa gurauan bahkan sindiran yang beredar sepanjang tiga hari terakhir ini sebagai reaksi masyarakat atas isu naiknya harga rokok hingga rata-rata di atas 50.000 untuk beragam merk.
Di media on line muncul berbagai tanggapan tentang pro dan kontra rokok menyusul isu kenaikan harganya yang terus merebak. Berbagai tanggapan tersebut kadang hanya debat kusir antara pendukung rokok (asosiasi tembakau, pengusaha/pekerja dan perokok) dan mereka yang bicara tentang temuan survey (BPS , YLKI dan pemerhati masalah sosial/kesehatan).

Di satu sisi rokok memang memberikan kontribusi besar berupa cukai ke pemerintah yang menjadi pendapatan di APBN. Selain itu pabrik rokok telah mampu menyerap tenaga kerja yang banyak. Belakangan pekerjaan manusia mulai tergantikan dengan adanya mekanisasi pabrik rokok dengan mesin dan robot. Sehingga PHK menjadi ancaman serius bagi pekerja di sektor rokok.

Merunut pada rilis kemiskinan yang dilansir oleh BPS terakhir, dengan sumbangan rokok pada Garis Kemiskinan Makanan (GKM, dengan pemenuhan ekuivalen 2100 kkalori perhari/kapita) diperkotaan sebesar 8,08% dan di pedesaan sebesar 7,68%. Dapat dikatakan bahwa orang yang dikategorikan miskin ternyata banyak yang mengkonsumsi rokok. Bukan berarti orang yang tidak miskin tidak merokok, tetapi bagi mereka yang tidak miskin karena merokok share pengeluaran rokok ini sangat kecil dibandingkan untuk pengeluaran barang mewah lainnya. Berbeda dengan yang miskin, share pengeluaran untuk rokok bisa pada urutan kedua setelah beras.

Pada tahun 2015 saja, dari hasil Susenas, dapat dilihat bahwa penduduk berusia 15 tahun keatas yang mengkonsumsi rokok sebesar 22,57 persen di perkotaan dan 25,05 persen di pedesaan. Rata-rata jumlah batang rokok yang dihabiskan selama seminggu mencapai 76 batang di perkotaan dan 80 batang di pedesaan. 

Kembali pada isu kenaikan harga rokok, kita semua berharap agar pemerintah segera memberikan penjelasan yang memadai dan proporsional terkait hal ini. Pemerintah bertanggung jawab untuk memelihara ekosistem yang baik bagi para perokok, pabrik rokok dan mereka yang menjadi miskin karena kebiasaan merokok sekaligus untuk kesehatan kita dan generasi kita dimasa yang akan datang. Ini memang kompleks, tetapi manakala pemerintah berdiri di atas kepentingan masyarakat secara luas jalan keluar akan selalu ada. 

Bagi siapa saja yang terkait dengan urusan rokok untuk saling menjaga diri dan menghormati, karena dalam hak kita juga terkandung tuntutan untuk memberikan hak orang lain terutama masyarakat secara luas…

Tinggalkan komentar