Hidup Bermanfaat

Gotong Royong Dalam Kekinian (lanjutan: Media Sosial…..)

Di Amerika, penganut paham liberalisme, media sosial merupakan ekspresi dari kelelahan perilaku individualistic dari para warganya. Pada sepuluh tahun terakhir ini warga Amerika cenderung memanfaakan media sosial untuk sharing, dari sekedar chat hingga persoalan penting dibicarakan dan menjadi diskusi hangat. Sebagian besar kejadian politik dipengaruhi pembicaraan di media sosial yang kemudian diberitakan di media on line secara luas. 

Kebersamaan masyarakat Amerika secara on line melalui berbagai platform media sosial juga merambah di dunia off line, atau kopi darat. Ketemu langsung. Ke biasaan sharing atau berbagi apa saja di medsos juga terjadi di kehidupan keseharian. Bermunculanlah berbagai komunitas yang intinya untuk berbagi. Di dunia bisnis muncul uber taksi yang semangatnya adalah sharing. 

Kalau kita searching di media on line, dan melihat video pendek di kanal YouTube, sharing sedang menjadi kata kunci yang sangat meluas di kehidupan warga Amerika dan Eropa. Apalagi terkait dengan sharing ekonomi.

Dalam sharing ekonomi pemilik modal tidak mendominasi, modal (capital) bukan kekuatan utama untuk pengembangan usaha-jumlah anggota komunitas dan platform kebersamaan menjadi kekuatan yang luar biasa. Prinsip ekonomi dasar berlaku: dimana ada kumpulan orang disitu ada denyut ekonomi. Seiring dengan perkembangan sharing ekonomi, Amerika sebagai kampium kapitalisme akan dirongrong oleh masyarakatnya sendiri??

Dari luar Amerika dan Eropa terutama negara-negara yang pernah menjadi pasiennya kapitalisme (baca: IMF, Bank Dunia) kini sedang dalam perjalanan penemuan. “Penjajajahan” tak akan memiliki waktu absolut. Dia juga terkikis oleh tumbuhnya kesadaran dan pengetahuan dari si terjajah akan rasa ketergantungan yang dibuat para kapitalis. Negara yang dulu pernah disebut akan bangkrut justru ketika melawan semua fakta angka-angka statistik ekonomi yang disuguhkan oleh si kapitalis kini menjelma menjadi negara dengan kebangkitan ekonomi yang kuat dan memiliki fundamental ekonomi yang baik. Sebut saja Korea Selatan. Malaysia juga demikian, Ia keluar dari cengkeraman kapitalisme justru di saat-saat dimana disebutkan kondisi ekonominya harus mendapatkan suntikan modal…

Dalam konteks Indonesia, euforia sharing ekonomi di Amerika dan Eropa harus dimaknai secara tegas dan progresif. Negara ini memang negara sharing. Bukankah Indonesia merdeka itu dari hasil sharing, gotong royong, bahu membahu dan kebersamaan. 

Memaknai 71 tahun kemerdekaan Indonesia dengan menangkap tanda jaman, bahwa seperti yang pernah ditulis oleh Frijof Kapra titik balik peradaban itu ada. Peradaban kita secara tak langsung sedang menjadi kiblat dunia barat dan eropa. Mereka tengah gandrung dengan sharing, gotong royong….. Itu jelas pancasila banget… 

Kita perlu mencari terobosan konsep gotong royong dalam kekinian. Koperasi kita harus tumbuh dengan modernisasi sistem sharing ekonomi yang dikelola layaknya alibaba, amazon dan Uber….. 

Tinggalkan komentar