Hidup Bermanfaat

Media Sosial, Ancaman Liberalisme?

Liberalisme berasal dari semangat untuk memberikan ruang bagi ekspresi individu. Ekspresi individu dianggap sebagai hak asasi yang melekat dalam kehidupan manusia, karenanya setiap ekspresi individu dalam masyarakat liberal harus dihormati. Perilaku individu yang tidak umum pun dijamin ekspresinya. 

Ruang kebebasan bagi ekspresi individu terjadi di semua sisi kehidupan manusia, dari hal pribadi hingga ke persoalan bisnis maupun pemerintahan. Dalam bisnis muncul pemenang-pemenang yang mengalahkan yang lain, yang kuat akan tetap berjaya. Dan begitu seterusnya hingga muncul pemenang yang paling kuat, sebelum ada penantang barunya. Pemenang yang menentukan permainan. Pemenang dalam bisnis artinya penguasa modal. Lahirlah pemilik-pemilik modal sebagai penguasa. Liberalisme melahirkan kapitalisme!

Sistem kapitalisme terus berjaya di negara-negara barat dan eropah. Lembaga-lembaga keuangan berkelas dunia berdiri dan menjadi “dewa” bagi negara-negara miskin. Modal (uang) memainkan peranan penting di belahan dunia. 

Sistem kapitalisme yang kuat itu memungkinkan negara-negara miskin mampu membangun infrastruktur, meningkatkan pendidikan dan melahirkan pemimpin-pemimpin lokal yang bisa dikendalikan oleh pemodal. Ini terus berjalan hingga batas dimana kebutuhan akan uang terpenuhi. Ketika uang terpenuhi, kualitas kehidupan makin meningkat. Di saat itu kesadaran untuk berkomunitas tumbuh subur.

Era berkomunitas berkembang terus bak air bah, merambah ke sisi ruang kehidupan secara luas. Internet membawa perubahan sangat besar, dimana konektifitas terjadi melampaui batas negara, tak lagi memperhatikan perbedaan waktu, ras ataupun suku bangsa. Pemanfaatan internet yang makin subur, melahirkan banyak platform berkomunitas secara on line, kita mengenalnya dengan media sosial.

Media sosial telah menjelma menjadi kekuatan baru. Power Shift yang pernah diprediksi futurolog Alvin Tofler sedang merambah ke seluruh labirin kehidupan masyarakat. Apa yang disebutnya sebagai the power invisible hand jauh dari perkiraan kita sebelumnya. Ternyata yang muncul adalah sekumpulan “Lilliput” yang tergabung dalam sebuah komunitas-yang dalam bahasa kekinian disebut sebagai netizens….. (bersambung)

Tinggalkan komentar