Perjalana saya singgah di persawahan, ngobrol dengan orang-orang yang saya temui, menuntun saya untuk membuat coretan seperti di atas…
Petani kata banyak orang bijak memang profesi mulia, bekerja penuh waktu, banting tulang untuk menghasilkan bahan makanan bagi semua yang hidup… Pergi pagi pulang petang kulit kelam, hidup pun demikian. Hanya sebagian kecil petani yang berhasil melawan kutukan itu…apalagi bagi mereka yang bekerja hanya sebagai buruh pertanian, menggarap lahan milik tuannya. Sungguh merupakan hidup yang penuh keterbatasan. Namun kita sering lupa dengan jasa mereka.
Mari kita renungkan dengan suatu gambaran yang paling sederhana: seorang petani yang mendapat bantuan hand tracktor dari pemerintah menggarap lahan miliknya diantara bangunan gedung. Jalan raya membuatnya tak pernah absen melihat mobil mewah lalu lalang melintasi bibir sawahnya. Sepanjang ia bekerja selalu terpikir bahwa pada saatnya sawahnya itu akan hilang. Berubah menjadi bangunan dan apa saja yang intinya alih fungsi lahan. Selama itu pula terbersit dalam benaknya beban hidup, pupuk yang mahal, tengkulak yang kejam….duh banyak sekali…. Ketika panen tiba harganya anjlok-untuk membiayai produksinya saja nombok…
Sementara nyaring terdengar para pejabat ngomong soal ketahanan pangan nasional-ia jadi tak paham. Malahan dari berita Ia mendengar dan melihat impor beras dilakukan, kata berita itu untuk memenuhi kebutuhan nasional yang tidak mampu dicukupi pertanian kita….
Gambaran di atas fakta yang saya temui dalam perjalanan saya di sepanjang Jawa dan Lampung. Bahkan buruh tani punya cerita yang lebih miris… Tapi namanya hidup, memang bila kita usaha Tuhan yang sudah mengatur rejekinya..
Sebagai bangsa yang besar tentu kita tidak boleh berhenti pada satu kalimat: Tuhan yang atur…… Kitalah mestinya yang mendisain agar ekosistem kehidupan seimbang dan harmoni. Saatnya pertanian dan petani kita ditempatkan mulia….
Tinggalkan komentar