Sejarah selalu menemukan tempatnya sendiri. Ia berlalu tapi tak menghilang, dibuat, dituliskan dan hidup. Sejarah bagi seorang pelajar adalah kumpulan kalimat hafalan yang membosankan, sejarah bagi sebagian besar kita adalah barang usang yang akan semakin membuat kita tenggelam dengan masa lalu. Tetap saja selalu ada yang mengatakan: “Sesungguhnya setiap langkah dalam hidup ini adalah pena yang sedang menggabungkan titik-titik sejarah di masa yang akan datang”.
Begitu luasnya orang berpersepsi tentang sejarah-suatu peristiwa di masa lalu: suka, duka, kegemilangan, ketersohoran, kemunduran juga kegagalan terangkai di dalamnya. Tulisan ini bukan telaah akademik yang didasarkan referensi yang cukup dan memenuhi kaidah-kaidah ilmu social. Tulisan ini obrolan berdasarkan imaji saya saja. Untuk membebaskan energi kreatif ketimbang perdebatan tentang referensi dan kaidah keilmuan. Saya tengah berusaha menyuburkan tentang pemikiran lepas yang bergelora, berkemajuan.
Di dalam sejarah selalu meninggalkan peradaban. Dan peradaban itu akan terus melecut kita yang mau mendalami untuk bergerak lebih baik dari apa yang pernah dicapai. Berbeda dengan kebanyakan orang, saya lebih suka menyebut tentang monument-monumen megah masa lalu dengan peradaban bukan peninggalan. Sebut saja misalnya di Cirebon: ada Keraton Kasepuhan, Kanoman dan Masjid Kasepuhan itu adalah peradaban yang pernah lahir dari gemilangnya sejarah masa lalu. Di Magelang-Yogya ada candi Prambanan, Borobudur yang merupakan tujuh keajaiban dunia. Dalam mata telanjang saja, kita menikmati arsitektur dan konstruksi candi Borobudur sebagai maha karya dengan sedemikian kompleksnya pengetahuan dan keahlian para pekerjanya yang luar biasa. Membayangkan proses pembangunan Borobudur yang megah dengan luas puluhan hektar itu akan muncul pertanyaan dalam benak kita. Bagaimana mengukir batu yang jutaan kubik jumlahnya. Bagaimana batu harus dipindahkan dari tempat tertentu yang mungkin berjauhan dari lokasi candi, memenej demikian banyak pekerja yang menyelesaikan bangunan tersebut. Itu terjadi pada abad ke delapan, itu terjadi 1200an tahun yang lalu. Pada saat Republik Indonesia belum ada. Itu belum kita pikirkan bagaimana setiap lorong itu dipenuhi relief yang memiliki cerita dan makna tertentu. Bukankah itu peradaban hebat….
Dari apa yang kita lihat itu, nenek moyang kita adalah para tersohor yang memiliki peradaban unggul, peradaban yang maju. Malu rasanya bila kita yang masih di sini, ditempat semua peradaban itu menjadi sejarah yang memukau kita hanya menjadi penonton perang teknologi dan perang bintang. Apalagi bila untuk sekedar menyelesaikan persoalan perut saja harus impor. Tidakkah kita mampu melihat bahwa begitu berartinya berbagai peradaban yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu kita.
Saatnya perubahan itu kita kerjakan dengan suatu motivasi luhur, mempertahankan capaian peradaban yang pernah kita ada di masa lalu atau bahkan perubahan yang sedang kita lakukan untuk suatu peradaban masa kini yang maju. Kita tak perlu seperti Hitler, melakukan doktrin rasisme dengan keyakinan bahwa bangsanya adalah ras manusia yang unggul. Cukup peradaban masa lalu kita itu sebagai energy untuk terus berubah ke arah lebih baik. Kita semakin yakin bahwa nenek moyang kita adalah orang-orang hebat, kuat, petarung, pekerja keras, penuh kebersamaan dan gotong royong yang pernah hidup di tanah ini, minum dari air dari perut bumi yang sama dengan kita.
Peradaban adalah dinamit dalam hati kita untuk terus melakukan perubahan menuju peradaban yang lebih maju……..Itu INDONESIA BANGET…
Tinggalkan komentar