Hidup Bermanfaat

Kisah Inspiratif Genghis Khan

Genghis Khan (Jenghis Kahn, 1162-1227) adalah seorang pemimpin besar yang mampu menguasai seluruh wilayah Asia pada masa itu. Bahkan beberapa negara Eropa berhasil ditaklukkan melalui kekuatan kerajaan Mongolia-tempat dia menjadi Raja, antara lain Rusia, Hungaria, Polandia dan Jerman.

Sepenggal kisah ispiratif masa kecil Genghis Khan, yang tak menyerah pada keadaan, menjalani keadaan sulit hingga mampu membalikkan keadaan berikut ini dapat menjadi penyemangat kita tatkala menghadapi kesulitan.
Ada seorang bangsawan terpandang dengan harta berlimpah yang tinggal di sebuah negeri padang rumput yang membentang luas. Alkisah, disebabkan oleh jumlah peliharaan ternak yang dimilikinya bertambah semakin banyak, bangsawan ini mencari akal bagaimana mengurusi ternak-ternaknya. Dia mencari dua orang dari keluarga tak mampu, satu pemuda bertubuh tegap dan kekar, sedang yang lainnya bertubuh kurus kering. Pemuda yang pertama diberikan tugas untuk mengurusi kuda, dan pemuda kurus ditugasi untuk mengurusi kambing.

Setelah beberapa lama, si pemuda kekar mulai congkak. Merasa dirinya lebih memiliki fisik yang prima dan kuat dibandingkan si kurus, ia mengintimidasi si kurus dengan memintanya untuk bertukar posisi/tugas. Si pemuda kekar meminta kepada si kurus untuk mengurusi ternak kuda saja, sedangkan dirinya mengurus kambing. Si tegap mengancaman bila si kurus menolak apalagi melaporkan kepada sang majikan.

Petang harinya, dengan wajah yang kusut dan langkah gontai si kurus kembali ke rumahnya. Setibanya di rumah, melirik wajah sedih dari anaknya, sang ibu bertanya: “Ada masalah apa nak? Cobalah bercerita ke ibu” Lalu si kurus itu menceritakan semua yang terjadi pada dirinya pada hari sembari mengungkapkan ketidakadilan yang diterimanya. Bagaimana mungkin temannya yang bertubuh tegap dan kekar mengurusi ternak kambing yang lamban dan malas, sedangkan dirinya yang bertubuh lemah dan kurus harus mengejar-ngejar kuda liar, memandikan, menarik serta mengendalikannya. Ujarnya dengan nada sedih.

Selepas makan malam, sang ibu menghibur anaknya yang kurus tersebut, “Nak. Semua masalah pasti ada hikmahnya. Syukuri, hadapi, dan terima dengan besar hati. Tidak usah memusuhi dan membenci temanmu itu. Ibu percaya, semua kesulitan yang akan kamu hadapi, jika kamu mampu belajar dan kerja keras, pasti akan membuatmu menjadi kuat dan bermanfaat untuk masa depanmu.”

Sejak hari itu, si kurus berjuang dengan susah payah setiap harinya, bergelut dengan mata pencahariannya sebagai pengurus kuda-kuda kekar dan masih liar. Seringkali ia harus jatuh bangun, terhantam oleh si kuda, kadang terinjak dengan luka parah dan hilang kesadaran. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kemampuannya menguasai kuda terus meningkat hingga ia dikenal mampu mengendalikan sekaligus menguasai kuda – kuda dengan sangat mudah. Kebiasaannya tersebut membuat dirinya kini memiliki fisik yang kekar dan kuat.

Hingga pada suatu ketika, terjadilah perang yang tak terelakkan di Mongolia. Ketika kerajaan memerlukan pasukan berkuda yang handal, terpilihlah si pemuda ini sebagai pemimpin pasukan. Pada masa dimana senjata modern belum lahir, kekuatan prajurit suatu pasukan seringkali ditentukan oleh kepiawaian dalam bertempur di atas kuda. Karena kehebatannya dalam menjiwai dan menguasai kuda, membuat pasukan Mongol memenangkan perang itu. Pasukan berkuda Mongolia penakluk musuh tersebut dipimpin oleh pemuda yang masa kecilnya kurus dan bekerja dalam intimidasi temannya, tak lain adalah Genghis Khan.
Sumber: artikelbahasaindonesia.org

Tinggalkan komentar