Kelahiran Kota Cirebon yang sudah 644 tahun-di tahun 2013, saya ketahui baru saja sekitar 3 minggu yang lalu. Saya ‘dipaksa’ oleh sejarah untuk ikut dalam pesta demokrasi lima tahunan, pemilu legislatif. Ternyata sosialisasi sejarah sebagai bagian dari salah satu cara membangun semangat untuk mengokohkan integritas budaya dan kepedulian terhadap perkembangan Cirebon belum sepenuhnya mengena. Berbagai perayaan tidak meninggalkan makna filosofis di kalangan muda untuk bangkit, bertolak dari sebuah pengetahuan tentang sejarah Cirebon yang di dalamnya ada pesan, modalitas dan heritage yang menjadi bangunan penting dari proses menjadikan Cirebon sesuai cita-cita para pendirinya.
Saya masih dalam perjalanan menggali makna filosofis, modalitas dan heritage itu. Setidaknya saya punya kesimpulan awal bahwa Cirebon memiliki case yang unik baik di masa lalu maupun sekarang. Mesti kota di jalur pantura, Cirebon adalah kota populer di dalam negeri maupun di manca negara. Kota pantai yang menghubungkan berbagai daerah, memiliki banyak peninggalan sejarah, punya dinamika yang baik, budaya berwirausaha yang tinggi, religi yang benar juga “menyimpang” bertumbuh sama baiknya…(tolong dikoreksi bila ada data lain yang lebih valid). Tetapi masih tetap mengkhawatirkan sarana infrastruktur penunjangnya apalagi penataan lingkungannya. Namun aktivitas ekonomi penduduknya semarak.
Cirebon bukan saja teritory pemerintahan Kota seperti mungkin dipahami secara dangkal oleh sebagian besar generasi muda. Tidak cukup memahami Cirebon hanya sebatas pemerintahan Kota dengan otoritas puncak pemerintahan di tangan Walikota. Bagi saya Cirebon adalah cita-cita, jalan, wajah, semangat, darah, amanat yang tidak boleh diingkari. Karena ada alasan yang tidak bisa dibantah. Bahwa kita berawal dari sini-Cirebon. Begitu juga warna yang mesti kita jelaskan ketika kita di luar negeri tentang Indonesia. Karena kita lahir di tanah air tercinta ini. Fanatisme itu adalah pertanggungjawaban juga kebanggaan yang dapat membuat kita terpanggil dimanapun dan kapan pun untuk berbuat sesuatu tanpa ada catatan sebagai perantau dan lain-lainnya.
Bahwa dalam perjalanan waktu kita secara sendiri, orang per orang, berkelompok, berormas, ber partai dan sebagainya pernah mengisi ke-Cirebon-an dengan hal yang membanggakan maupun melukai perjalanan Cirebon itu adalah sebuah proses yang harus terus kita perbaiki. Karena Cirebon itu tidak given. Kita mesti saiyeg saeko proyo untuk menjadikan Cirebon sesuai titen yang kita tangkap dari para pendiri dan orang-orang sholeh yang telah mengantarkan Cirebon berumur 644 tahun.
Dalam kaitan mengokohkan kesadaran Cirebon on becoming dan tradisi kota-kota tua yang bertahan dan menjelma menjadi kota modern yang tetap manusiawi. Sebut saja Madinah dan Mekah. Selalu saya tertarik untuk mengatakan tentang kesan saya yang mendalam terhadap penggambaran dinousaurus dalam film Jurassic Park. Ribuan tahun yang lalu ada sebuah binatang yang diketahui dari penemuan fosilnya adalah binatang yang sangat besar, dengan tulang-belulang yang menyangga tubuhnya kokoh serta kuat…. ya ribuan tahun yang lalu. Dan binatang itu sekarang tak satu pun menyisakan keturunan apalagi species yang dapat melanjutkan ketersohorannya di masa lalu. Dinousaurus punah bukan karena dia binatang kecil dan lemah. Dinousaurus ditelan perubahan jaman karena tantangan-tantangan pada jamannya baik alam maupun kompetisi rimba tidak mampu ia imbangi dengan perubahan pada dirinya. Begitu juga kita sebagai pribadi, kita sebagai suatu kelompok organisasi, kita sebagai bagian dari kota atau negara pada saatnya akan tinggal kenangan, meminjam istilah orang sunda: “Kiwari kantun wa asna”– bila tidak mengusung nafas perubahan. Itulah proses yang harus terus konsisiten kita perbaiki dan ikuti tanpa merasa takut dan dianggap aneh, karena kita ingin bertahan…..
Ingat. Cirebon masih dalam proses menjadi. Cirebon on becoming….
Tinggalkan komentar