Masih lekat di pikiran saya kata bijak negarawan Amerika, Harry S. Thruman: Politik adalah Kegiatan yang Luhur, tidak ada tempat pengabdian yang lebih luas untuk kemajuan umat manusia kecuali melalui politik. Karena itu kita sebagai pemuda bangsa yang lahir dari semangat perubahan harus menarik garis yang tegas sebuah aktifitas politik untuk kemajuan bangsa ini, Indonesia yang kita cintai.
Lantas, melewati apa dan bagaimana kita mesti memulai suatu pengabdian luhur di ranah politik. Tentu melalui gerakan politik yang konstitusional dan bermanfaat untuk orang banyak.
Agar pengabdian itu benar-benar bernilai luhur kita harus mempersiapkan segala perangkat dalam aktivitas politik tidak saja benar secara konstitusi, tetapi harus meningkatkan kualitas diri, berintegritas dan punya kapasitas untuk membawa tujuan suci yaitu pengabdian.
Kondisi masyarakat kita yang masih belum sepenuhnya maju memungkinkan banyaknya praktek politik yang membodohi masyarakat. Ini masih terus dilakukan melalui serangkaian proses pesta demokrasi baik pemilukada maupun pemilu legislatif. Banyak kandidat hanya untuk memperoleh dukungan dan kemenangan tanpa segan mengumbar janji-janji yang kadang janji itu tidak dalam kapasitasnya untuk diwujudkan jika seorang kandidat terpilih dalam jabatan yang dikejarnya. Bahkan uang, materi menjadi andalan. Suara rakyat diperjual-belikan seperti barang dagangan. Rakyat juga mudah tergiur dengan iming-iming materi, maka tidak mengherankan bila Idrus Marham, Sekjen Partai Golkar dengan sangat meyakinkan mempertahankan disertasi doktornya dihadapan penguji Universitas Gajah Mada (Editorial Media Indonesia, 20 Januari 2009) dan menyatakan bahwa 60% anggota DPR tidak berkualitas…. ini berarti proses pemilu yang demokratis itu belum melahirkan wakil rakyat yang dapat memperjuangkan rakyatnya.
Oleh karena itu, intelektual saja tidak cukup untuk bisa menjadikan seseorang meluhurkan aktivitas politiknya. Nurani tetap harus menjadi rujukan, moral diperlukan untuk menjaga semangat perjuangan dan pengabdiannya dan idealisme yang dibalut dengan kelegaan menerima relitas adalah jalan menuju pengabdian nan luhur dalam berpolitik.
Rasanya berteriak, mengkritik, mengumpat dan jengkel dengan sumpah serapah melihat keadaan hanya akan menyisakan sesak dan sembilu di hati, toh apa yang ada akan tetap berjalan seperti waktu yang tak mungkin dihentikan. Sudah waktunya siapa saja yang berani menerima tantangan pengabdian yang luhur melalui piolitik ikut ambil bagian, bertarung untuk merebut posisi-posisi strategis, mewujudkan politik sebagai pengabdian untuk kesejahteraan rakyat.
Tekad itu yang kini saya bawa, pemilu legislatif yang kini menerapkan suara terbanyak adalah sebuah sistem untuk mengukur siapa sesungguhnya yang dipercaya rakyat. Dengan menjadi calon anggota DPR RI dari daerah Pemilihan Jawa Barat VIII dari Partai Amanat Nasional perjalanan hidup saya sedang MENUJU PENGABDIAN YANG LEBIH LUAS
Mohon doanya, saran dan kritiknya….itu akan membuat saya lebih baik. Salam Pengabdian……
Tulisan ini di recycle dari tulisan yang sama dan diposkan di azissubekti.blogspot.com pada 19 Januari 2009 pukul 21.29
sip
SukaSuka