Hidup Bermanfaat

Tentang Puisi Terakhir WS Rendra

senibudaya_rendra

Saya sejak kecil suka puisi…ketika belum bisa membaca suka mendengarkan orang yang baca puisi, setelah bisa membaca menikmatinya. Beberapa kali pernah ikut lomba dan berhasil. Namun arah aktivitas hidup sehari-hari tak menyuburkan kegemaran terhadap puisi dan seni, apalagi menjadi seorang seniman. Sesuatu yang hingga hari ini masih terasa kurang.

Beberapa minggu terakhir ini saya menyempatkan untuk memanfaat mesin pencari di dunia maya, alhamdulillah beberapa puisi dapat saya nikmati, saya dapatkan teksnya juga video-nya. 

Tentang puisi terakhir WS Rendra saya dan sahabat harus menerima tanpa mendengar suara penulisnya alias hanya teks nya. Setidaknya bisa kita bayangkan mimiknya yang spesial dan komat-kamit mulutnya yang dingin…ketika dia membacakannya sembari menahan sakit di atas tempat tidur terakhirnya. 

Perjalanan panjangnya, kesenimanannya, kecintaannya kepada orang-orang kecil dan tertindas dilengkapi dengan akhir kesadaran…bahwa dirinya bisa jadi bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan. Puisi terakhirnya bukan penyesalan, tetapi sebuah penegasan bahwa WS Rendra manusia biasa…

Berikut puisinya:

BEKAL SURGA

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman baiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih,
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas tempat tidur Rumah Sakit)

Tagged as: , , , , , ,

Tinggalkan komentar