Hidup Bermanfaat

KISAH SEDERHANA DARI DESA

Meskipun perjalanan hidup Azis Subekti dalam menggapai cita-cita tak selalu bertabur bunga dan jalan mudah namun ia selalu mengatakan: “Mendung yang bergelanyut akan segera pergi dan datang hujan pertanda keberkahan, malam yang mencekam akan terus berjalan menyambut pagi yang cerah. Dunia selalu dipergilirkan.” Pernyataan itulah yang tetap membuatnya bersemangat. Pasca pelepasan siswa dari SMA ternyata keberuntungan belum berpihak pada cita-citanya yang meninggi langit. Menurut profil siswa yang diterbitkan majalah sekolah ‘KHARISMA’ pada bulan Mei 1994 menyebut Azis Subekti, siswa yang diterima di IKIP Semarang jurusan fisika tanpa tes ini, sosok yang bercita-cita menjadi guru besar. Namun kenyataannya jauh panggang dari api. Bagaimana mungkin jalan menjadi guru besar, sedangkan dirinya tidak punya kesempatan untuk mengenyam bangku perguruan tinggi pada saat itu.

Mujur datang tidak diundang, sekitar awal bulan juli 1994, Azis masuk kerja sebagai karyawan kantoran di bilangan Kuningan, kawasan bisnis segitiga emas, Jakarta Selatan. Memang sudah menjadi suratan dari perjalanannya, belum genap sebulan Ia bekerja karena kemampuannya menyelesaikan tugas yang sebenarnya bukan pekerjaannya, membuat managernya menanyakan perihal sekolahnya. Alhasil sang manager dan pemilik perusahaan yang nota bene orang bule jadi tahu kalau Ia mantan siswa teladan SLTA Propinsi Jawa Tengah tahun 1993 dengan segudang prestasi yang pernah diraihnya. Azis akhirnya mendapat kesempatan nyambi kuliah dengan beasiswa penuh dari perusahaan.

Di kampusnya, Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Muhammadiyah Jakarta, Azis terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik melalui pemilu mahasiswa fakultas secara langsung. Saat itu ia baru semester 4, dan Azis tercatat sebagai mahasiswa semester termuda pertama yang pernah menjadi ketua senat mahasiswa fakultas. Periode kepengurusannya sebagai ketua senat 1996-1997, suatu keadaan pra reformasi 1998 yang penuh ledakan-ledakan politik yang tidak terduga. Pada saat itu ketua senat mahasiswa merupakan eleman penting bagi gerakan mahasiswa. Ia berkenalan dengan banyak tokoh vokal seperti Sri Bintang Pamungkas, Amien Rais, tokoh-tokoh gerakan, seperti Nuku Sulaeman dan beberapa aktifis gerakan dari berbagai kampus di Jakarta. Masa kuliah S1 ditempuh secara unik, masuk, keluar dan kemudian masuk kampus lagi sehingga baru pada tahun 2006 ia menamatkan pendidikan S1 nya. Meski sempat menghilang lama, karena aktifitas gerakan 1998 dan politik pada kurun waktu 1998-2001 dan dilanjutkan perjalanannya ke manca negara sepanjang 2001-2003, kemudian menikah dan terus beraktifitas di wirausaha tapi akhirnya sekolah tetap selesai. Tahun 2007 diterima sebagai mahasswa S2 Teknik Industri Universitas Indonesia dan mempertahankan Tesisnya dihadapan penguji, salah satunya Dr. Sri Bintang Pamungkas, orang yang pernah ditemuinya dalam aktifitas gerakan sepanjang 97-98. Dan diwisuda awal 2010.

Seputar pergaulan elit politik

Azis orang yang dalam banyak hal mampu dengan cepat menyesuaikan dengan suasana kerja baru. Keinginan melayaninya lebih tinggi ketimbang dilayani, mengalahnya lebih mudah dari pada egonya. Ia sosok yang lebih banyak memposisikan pada kejernihan. Berpihak karena kesetiakawanan dan kebenaran. Karir politiknya dimulai dari jabatan Ketua DPP Barisan Muda Penegak Amanat Nasional. Awal pemilu pertama pada jaman reformasi tahun 1999, Hatta Rajasa sebagai ketua tim pelaksana pemenangan pemilu DPP PAN, menunjuknya sebagai komandan sekretariat. Tugas tersebut juga membuatnya bolak-balik Jakarta-Cirebon karena berkoordinasi dengan Bendahara Umum PAN yang pada saat itu dijabat Ir. Soenoto yang asli Cirebon.

Posisinya saat ini di kepengurusan partai adalah Wakil Sekjend DPP PAN. Ia memang supel dan ramah dalam bergaul, pengetahuannya yang luas menjadi modal utamanya. Di kalangan para menteri dari PAN yaitu Hatta Rajasa, Zulkifli Hasan dan Azwar Abubakar ia merupakan sosok yunior yang multi talenta. Banyak sumber di kalangan internal PAN menyebutkan Azis adalah orang lingkaran dekat Ketua Umum PAN Hatta Rajasa dan dipercaya memegang kendali strategis organisasi. Ia juga terlibat aktif dalam gerakan reformasi birokrasi yang pada dua tahun terakhir ini sangat gencar dilancarkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI Azwar Abubakar, karena di Kementerian tersebut Azis dipercaya menempati pos Staf Khusus Menteri.

Keluarga yang sangat membahagiakannya

Ia menikahi Ina Sujianti, gadis pujaannya pada bulan mei tahun 2003, setahun kemudian dikaruniai buah hati dari sang pencipta Sausan Shafia Inabek yang lahir pada 29 Pebruari 2004. Tiga tahun kemudian anak keduanya laki-laki lahir Diwan Basya Muhara pada tanggal 18 Mei 2007. Anaknya yang ketiga (laki-laki) Alisyar Azis Muhara lahir pada tanggal 27 Pebruari 2009. Dengan tiga anak; satu perempuan dan dua laki-laki ia dan istrinya merasa sudah cukup sebagai karunia yang luar biasa dari Allah Swt.

Cita-cita Politiknya: Bermanfaat Untuk Orang Banyak

Ditanya tentang ambisinya di politik dengan diplomatis Azis mengatakan: “Saya ini sudah sering menjadi calon, menurut saya pelajaran yang tidak kalah penting dalam hidup ini adalah kekalahan, orang yang berpikir positif menyebutnya sukses yang tertunda.”

Dari penuturannya yang terkesan mendalam dan penuh arti Azis mengungkapkan pencalonannya sebagai DPR RI melalui daerah pemilihan Jawa Barat VIII adalah suatu perjalanan spiritual yang sangat berbeda dari pencalonannya yang lain. Ia menyadari bukan putra daerah, namun ia memastikan komitmen pengabdiannya kelak jika dipercaya mewakili orang Cirebon dan Indramayu di Senayan. Tekadnya melakukan pengabdian terbaik untuk masyarakat. “Saya ingin mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran saya untuk masyarakat sebagai rasa syukur atas kesempatan yang telah Allah SWT berikan saat ini kepada saya. Saya selalu diberi kemudahan juga kemuliaan. Menjadi staf khusus menteri saja sudah sangat besyukur, bukan karena materi tapi lebih pada kehormatan dan tanggung jawab.”

Menurutnya selama ini pulang pergi Jakarta-Dapil (Cirebon, Indramayu) untuk sosialisasi ia menemukan banyak hal baru dalam hidup juga teman, sahabat, saudara dan guru baru. Banyak tokoh yang ditemuinya menguatkan integritas perjuangan politiknya, dan banyak diantara mereka pimpinan umat yang memiliki  keteladanan dan menginspirasi. “Saya akan membawa semangat mereka (para pemimpin umat-red) untuk tidak saja menyuarakan kepentingan masyarakat cirebon-Indramayu. Saya ingin tanamkan dalam-dalam di hati ini untuk bersama-sama yang lain memperbaiki negeri ini dengan keteladanan” Tegasnya.

 (disadur dari Profil terbitan khusus Radar Cirebon)

2 Tanggapan »

  1. sudah ke alzaytun blm pak,datanglah,lihatlah ,saksikanlah,

    Suka

Tinggalkan komentar